Perempuan Tangguh

21 April kemarin Hari Kartini dirayakan di Indonesia. Sebagian orang merayakannya dengan berdemo. Mereka yang risih dan resah, tanpa rusuh menyuarakan hak-hak perempuan yang tidak dipenuhi. Sebagian lainnya mengkritisi. Mereka yang menginterpretasi sejarah, mempertanyakan prestasi Kartini. Sembari merajuk, mengapa bukan Dewi Sartika? Mengapa bukan Cut Nyak Dien? Mengapa bukan Rohana Kudus? Sebagian orang lainnya merayakan dengan cara masing-masing, atau tidak merayakannya sama sekali.

Saya? Hal pertama yang saya sadari adalah banyaknya perempuan-perempuan tangguh di sekitar saya. Ibu saya yang cerita-cerita dalam perjalanan hidupnya lebih fenomenal dibandingkan tokoh utama perempuan manapun yang namanya diabadikan menjadi judul sinteron. Nenek saya yang begitu telaten dan tekun dalam menjalani peran sebagai ibu untuk menjaga dan merawat anak-anaknya hingga cucu-cucunya. Tante saya yang ketika suaminya meninggal, justru ia yang dapat bersikap tenang bahkan berusaha menenangkan keluarganya. Perempuan-perempuan tangguh itulah yang dapat menjadi suri tauladan saya dalam mengarungi kehidupan. Belajar untuk tetap kuat dalam menjalani hidup, belajar untuk tekun dalam menjalani kewajiban, belajar untuk tabah dalam menjalani ujian.

Atas perjuangannya itu ia hanya menekankan untuk memiliki sebuah prinsip, dan bertanggung jawab atas prinsip tersebut.

Nah, tahun ini saya kembali menemukan satu perempuan tangguh, tapi bukan dari keluarga saya. Saat masih bersama di bangku kuliah, saya masih belum terlalu dekat dengan dia. Tapi akhirnya saya mendengar cerita hidupnya saat dia sudah lulus, dan telah bekerja. Dia yang berani merantau kembali setelah empat tahun meninggalkan Jakarta menuju Yogyakarta, kini menambatkan hidupnya di Balikapapan. Dia yang berani menentang mainstream untuk memperbaiki moral hazard di kantornya, berani memimpin orang yang umurnya jauh lebih tua, berani membela bawahannya yang didzalimi atasan lain. Hal-hal itu yang dapat membuat mulut saya menganga saat mendengar ceritanya. Atas perjuangannya itu ia hanya menekankan untuk memiliki sebuah prinsip, dan bertanggung jawab atas prinsip tersebut. Well, keep on fighting sist!

Widia Nofitasari

A woman is like a tea bag; you never know how strong it is until it’s in hot water.

Eleanor Roosevelt

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s