Menulis, Writing, écrire, يكتب

Menulis terkadang menjadi hal yang biasa bagi sebagian orang dan akan menjadi hal yang spesial bagi sebagian orang lainnya.

-anonim-

Blog, koran, jejaring pertemanan, buku tulis sendiri menjadi media yang tak terpisahkan bagi berbagai penulis. Jika pada zaman dahulu orang – orang berteriak karena tidak adanya media yang memfasilitasi untuk menulis, zaman sekarang zaman digital yang sudah melewati zaman mesin, media untuk menulis diberikan dengan bebas terbatas. Namun kenapa menulis masih menjadi hal yang langka bagi sebagian besar masyarakat?

Kemauan, itu adalah hal yang tidak dimiliki setiap orang. Kemauan besar untuk menulis akan sangat sulit timbul jika tidak disertai dengan kebutuhan yang besar pula. Tidak mengherankan dunia pers saat ini di isi oleh orang – orang yang pada  saat masih mengenyam pendidikannya dituntut untuk tahu banyak dan menulis banyak. Muncul satu tersangka mengapa budaya menulis masih langka. Pengajar, pengganti orang tua disekolah. Pihak yang memiliki fungsi manifes untuk mencetak insan berkualitas. Apakah hilangnya budaya menulis ini menjadi kesalahan tenaga pengajar yang tidak berhasil membudayakan ke anak didiknya?

Kemauan besar untuk menulis akan sangat sulit timbul jika tidak disertai dengan kebutuhan yang besar pula

Faktanya, walaupun banyak guru yang mewacanakan untuk banyak mencari tahu dan banyak menuangkannya ke tulisan, apakah akan digubris oleh anak muridnya? jawabannya JELAS mungkin tidak. Akan ada penolakkan besar-besaran yang akan dilakukan murid jika dibebani tugas yang menurut mereka. Ini merupakan budaya yang menjamur dalam hampir setiap sekolah terutama negeri di mana saja. Entah bagaimana caranya budaya ini dapat begitu luas menjamur, sangat bertolak belakang dengan harapan semua orang. Jika kita melihat hal ini, yang menjadi masalah selanjutnya adalah sikap moral tiap orang yang ditanamkan dari kecil. Muncul tersangka lainnya mengapa budaya menulis itu langka. Orang tua.

Sikap alimentasi atau hubungan yang terbina antara orang tua dan anak di atur dalam undang – undang. Ini membuktikan betapa pentingnya perhatian orang tua kepada anaknya. Sikap masyarakat pada umumnya yang emoh berusaha dari awal (sekolah), akan sangat ditentukan bagaimana orang tua mengasuh, mendidik, dan memberi contoh. terlebih anak – anak pada saat kecil akan menjalani masa dimana ia akan meniru apa yang ada disekelilingnya dan apa yang ia lihat. Orang tua yang menjadi pihak terdekat dalam kehidupan seorang anak dituntut untuk memberi contoh yang baik, budiman terhadap anaknya. Tidak terlalu mengada -ngada rasanya jika penulis menyalahkan orang tua – orang tua yang menyepelekan hal ini dan mempercayakannya kepada (maaf) pembantu rumah tangga.

Namun akan ada saatnya nanti kita menjadi orang tua bagi anak – anak kita. dengan kata lain semua itu akan menjadi bahan renungan kita bagaimana kita akan menyikapinya nanti. Ada seorang guru Bahasa Indonesia yang mengatakan ” jika saat diskusi anda ditanya dan anda jawab -kembali kepada diri kita sendiri-, itu akan mematikan diskusi” dengan kata lain hilangnya budaya menulis akan menjadi debat kusir yang tak kunjung habis jika dicari siapa pelaku dibalik semua ini.

Akan lebih terpuji jika kita bercermin pada diri kita sendiri dan menanyakan “apakah saya sudah menulis?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s