Tak Ada Departemen yang Tak Retak

Departemen luar negeri bak kebakaran jenggot, hal ini dimulai saat dicopotnya Ade Wismar dari jabatannya sebagai Kepala Biro Keuangan karena terlibat kasus tiket diplomat. Hal ini tidak mengherankan karena disinyalir ada penggelembungan atau mark up pembayaran tagihan (refund) tiket mutasi pada diplomat periode 2008 – 2009. Berhubung hal ini terjadi dalam jangka waktu yang cukup lama, banyak pihak yang terkait dalam kasus ini, sebut saja Kepala Bagian Pelaksana Anggaran merangkap Bendahara Keuangan, Syarif Syam Arman, serta Kepala Subbagian Administrasi dan Pembiayaan Perjalanan Dinas Ade Sudirman. Mereka berdua harus menerima sanksi berat yaitu dinon-aktifkan dari jabatannya semula.

Dari 1.185 laporan keuangan refund tiket pada periode itu lebih dari separuhnya terindikasi mark up, dan diperkirakan kerugian negara mencapai hampir 21 Miliar. Jumlah ini lebih tinggi dari kasus Bank Century yang mencapai 6 Miliar, semoga penanganannya tidak berlarut – larut pula seperti Century. Penggelembungan itu terjadi saat agen mengajukan tagihan ke biro keuangan atas penggantian biaya tiket diplomat. Dalam hal ini, diplomat biasa terlebih dulu menalangi biaya tiket itu. Dalam blangko penagihan (invoice), agen me-mark up biaya yang harus diganti. Misalnya, uang yang dibayar ke diplomat Rp 150 juta, tapi tagihan yang diajukan agen Rp 200 juta. Mark up juga dilakukan saat biro keuangan mengajukan laporan ke Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara. Modusnya dengan mengisi blangko invoice kosong yang diberikan agen. Misalnya, tagihan agen-yang juga telah di mark up Rp 200 juta. Yang dilaporkan ke negara Rp 250 juta. Laporan itu juga tak melampirkan bukti tiket dan boarding pass sesuatu yang semestinya ada. (sumber Tempointeraktif).

Hal ini sangat mengecewakan masyarakat, terutama mereka yang mendambakan jabatan di departemen luar negeri. Padahal departemen luar negeri sedang mencanangkan program meritokrasi, yang tujuan utamanya untuk meningkatkan kualitas dan profesionalisme dalam lembaga internal. Pengefektifan di berbagai sektor terus di lakukan demi berhasilnya program, sekitar 200 penjabat diplomat ditarik pulang dalam rangka untuk merasionalkan jumlah di 119 kantor perwakilan. Program yang saat itu di mulai saat di gawangi oleh Menteri Luar Negeri Nur Hasan Wirayuda harus disambut baik oleh masyarakat secara luas. Beliau melihat bahwa struktur di departemen ini tidak lagi memadai sejak 1974. Lalu saat Menteri Luar Negeri di jabat oleh Marty Natalegawa, terungkap borok yang selama 2 tahun ini tertutupi dalam Departemen Luar Negeri. Sikap Marty pun bisa dikatakan masih terkesan dualisme, di satu pihak beliau ingin kasus ini segera diselesaikan, di lain pihak ia terlihat bersikap seperti ingin melindungi orang – orang internal Deplu.

Padahal departemen luar negeri sedang mencanangkan program meritokrasi, yang tujuan utamanya untuk meningkatkan kualitas dan profesionalisme dalam lembaga internal

Pengungkapan kasus ini merupakan sebuah prestasi bagi Inspektorat Jenderal Luar Negeri karena telah memberanikan diri untuk mem-blow up kasus ini, tanpa peduli dengan dampak politis yang akan muncul kemudian. Luka yang bekasnya takakan hilang di Deplu ini semoga tidak menjamur ke departemen lain, terlepas dari kita adalah manusia yang tak sempurna yang mudah termakan rayuan manis setan untuk menginjak harga diri kita sendiri dan menaikkan harga tiket hingga hanya sekitar 20%. Jikalau ini telah terlanjur menjadi hal yang ajeg dalam siklus pemerintahan, Para Menteri sudah selayaknya untuk mempersiapkan strategi yang mutakhir dan genuine dalam mengantisipasi ekses – ekses yang kemunculannya tak kenal waktu. Marty Natalegawa yang banyak menjadi Public Figure bagi banyak orang karena bertumpuknya prestasi yang membanggakan, penulis rasakan patut untuk menginisiasi hal ini. Karena masa kepemimpinannya terhitung masih lama di Kabinet Indonesia Bersatu jilid II dan masih banyak program – program kerja yang belum terlaksana. Pertahankan semangat reformasi Deplu yang sudah dimunculkan Hasan Wirayuda, tambah langkah – langkah mutakhir, dan berdoa semoga departemen lainnya berniat tulus ikhlas untuk mengikuti jejaknya dengan orientasi utamanya terselenggaranya sila – sila dalam Pancasila.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s