Urgensi Penyederhanaan Jumlah Partai

hizbut-tahrir.or.id

 

Ditengah hingar bingar dunia politik Indonesia telah bertiup angin segar, akhirnya bermunculan wacana – wacana untuk pembenahan sistem kepartaian Indonesia dengan cara menyederhanakan jumlah partai secara permanen. Hal ini terkait dengan PAN yang beberapa waktu lalu menyuarakan sistem konfederasi, Partai Demokrat yang mendengungkan asimilasi, dan Golkar yang percaya dengan fusi. Terlepas dari perbedaan metode  – metode penyederhanaan partai tersebut, semangat untuk memantapkan demokrasi di Indonesia ini harus di apresiasi. Bagaimana tidak, semenjak reformasi digulirkan di Indonesia bak air keran yang dibuka lebar, orang – orang berlomba untuk mendirikan partai politik sesuai dengan kepentingan mereka dan imbasnya hingga Pemilihan Umum (Pemilu) 2009 partai politik yang tercantum sebagai peserta pemilu berjumlah 38 Partai Politik plus 6 Partai Lokal di NAD. Jumlah ini cukup untuk membuat 200 juta warga Indonesia bingung menentukan pilihannya. Oleh karena itu penyederhanaan jumlah partai secara permanen merupakan salah satu resep ampuh untuk menunjang sistem presidensial di Indonesia ini.

semenjak reformasi digulirkan di Indonesia bak air keran yang dibuka lebar, orang – orang berlomba untuk mendirikan partai politik sesuai dengan kepentingan mereka dan imbasnya hingga Pemilihan Umum (Pemilu) 2009 partai politik yang tercantum sebagai peserta pemilu berjumlah 38 Partai Politik plus 6 Partai Lokal di NAD. Jumlah ini cukup untuk membuat 200 juta warga Indonesia bingung menentukan pilihannya.

Sistem multipartai ekstrem yang berlaku di Indonesia memang sudah mendapat banyak kritik dari berbagai pihak, hal ini wajar karena saat Pemilihan Umum hendak digelar partai politik berubah wujud menjadi ormas yang menyibukkan diri dalam kegiatan – kegiatan sosial seperti pembagian sembako murah ataupun berubah wujud menjadi Event Organizer bagi artis lawak dan penyanyi dangdut untuk menarik minat masyarakat dalam kampanye politiknya. Jika ingin menyebut ini pembodohan pada masyarakat, penulis rasa itu tidak berlebihan. Partai  – partai politik yang semakin banyak ternyata tidak berkompetisi untuk menarik suara secara sehat dan cerdas, mereka justru lupa akan fungsi lembaga politik dan pemerintahan sebagai pengelola masyarakat yang efektif dan efisien. Dengan kata lain banyaknya jumlah penduduk Indonesia tidak harus berbanding lurus dengan jumlah partai politik di Indonesia, karena akhirnya strategi utama yang digunakan untuk menarik suara adalah politik pencitraan.

Sempat dilancarkan strategi untuk menyederhanakan jumlah parpol dengan cara menerapkan sistem electoral treshold (ET) dan meniru parliamentary treshold (PT) seperti yang digunakan Jerman. Hal ini ternyata menimbulkan pro kontra dan berujung pada permohonan pengujian UU No.10 Tahun 2008 yang mengatur PT pada Mahkamah Konstitusi. Perdebatan mengenai PT tidak selesai sampai disitu, dalam pembahasan revisi undang – undang partai politik rencananya PT akan ditambah hingga menjadi 5%. Hal ini tentu membuat partai kelas kecil dan menengah menjadi was – was. Padahal pada pemilu 2009 kemarin yang hanya menerapkan PT sejumlah 3%, jumlah suara yang hangus akibat tersaringnya parpol oleh PT  hingga mencapai 20% jumlah suara pemilu, suara – suara yang hangus ini dibagikan ke parpol – parpol yang lolos PT dengan pembagian yang proporsional. Berangkat dari hal itulah wacana untuk meleburkan partai baik dalam bentuk konfederasi, asimilasi, maupun fusi. Hal ini penting dicermati karena penyederhanaan jumlah partai politik sebagai langkah untuk meminimalisir jumlah suara yang hangus akan menekan kemungkinan konflik sengketa pemilu, karena dengan terakomodasinya suara – suara partai kecil maka stabilitas politik akan tercapai.

partai besar yang menjadi tempat partai – partai kecil melebur harus memiliki bargaining position yang kuat, karena mereka harus membuat ideologi dan orang yang diusung mereka diterima oleh partai – partai yang melebur tersebut.

Melihat 3 jenis aliansi parpol tersebut, antara fusi dan asimilasi tidak ada perbedaan yang mendasar karena keduanya sama – sama ingin mencengkeram partai – partai gurem yang tidak lolos PT untuk melebur partai – partai besar, ini tidak berbeda dengan fusi pada tahun 1972 di masa orde baru yang meleburkan belasan partai menjadi tiga partai. Sedangkan dalam konfederasi, partai – partai yang bergabung dalam suatu bendera tetap memiliki eksistensinya, sistem ini sudah diterapkan Barisan Nasional di Malaysia dan Demokratik Liberal di Jepang. Jika dilihat dari jenis aliansinya, fusi atau asimilasi akan lebih lama bertahan karena partai – partai kecil benar – benar melebur kepada satu partai besar dan otomatis identitasnya akan berubah menjadi tempat partai – partai kecil tersebut melebur sehingga akan meminimalisir gejolak internal partai, namun hal ini akan sangat sulit dilakukan dan membutuhkan waktu yang sangat panjang untuk berkonsolidasi. Karena tentu saja akan sangat berat bagi suatu parpol untuk merelakan ideologinya dan berganti menggunakan ideologi parpol lain sebagai identitas, selain itu secara tidak langsung hal ini akan membuat konstituen partai – partai yang melebur tersebut berfikir dua kali untuk tetap setia karena telah terjadi perubahan besar – besaran pada partai yang melebur tersebut. Oleh karena itu partai besar yang menjadi tempat partai – partai kecil melebur harus memiliki bargaining position yang kuat, karena mereka harus membuat ideologi dan orang yang diusung mereka diterima oleh partai – partai yang melebur tersebut.

Lain halnya dengan konfederasi, dalam sistem ini partai – partai yang bergabung akan tetap diakui eksistensinya dan hanya berdiri di satu bendera dengan latar belakang kesamaan ideologi atau basis massa. Ada  lima kelompok besar yang diusulkan Pengamat Politik Universitas Paramadina Burhanudin Muhtadi yakni konfederasi partai Islam modernis, partai islam tradisional, partai nasionalis populis, partai nasionalis tengah, dan partai nasionalis kanan. Dalam hal penggabungan, waktu yang dibutuhkan relatif singkat karena setiap parpol tetap diakui eksistensi beserta ideologinya sehingga konsolidasinya yang dilakukan tidak akan memakan waktu lama. Namun kemungkinan untuk bubar akan lebih besar jika dibandingkan dengan asimilasi maupun fusi karena akan rentan terjadi internal competition dalam konfederasi tersebut, dengan kata lain umur konfederasi akan relatif lebih pendek dibanding asimilasi atau fusi.

Oleh karena itu ada dua hal utama yang harus dipenuhi dalam aliansi parpol, yang pertama adanya aturan yang mengikat baik dalam bentuk undang – undang ataupun kontrak politik diantara parpol yang bersangkutan. Harus ada etika – etika poltik yang mengikat parpol yang beraliansi, hal ini untuk menghindari terjadinya pergolakan yang berujung perpecahan internal yang merusak kesolidan aliansi. Kedua dituntut kedewasaan dan kelegowoan partai – partai yang beraliansi, harus ada kesadaran bahwa ini adalah jalur yang harus ditempuh demi peningkatan kualitas sistem presidensial yang dianut bangsa ini. Parpol tersebut harus rela untuk sedikit membelokkan idealismenya terutama untuk menguasai tampuk kepemimpinan pemerintahan, hal ini patut digarisbawahi oleh para petinggi parpol yang beraliansi. Karena sehubungan dengan aliansi, internal competition akan sangat tinggi. Mereka harus merendahkan ego mereka untuk mengedepankan parpolnya sendiri, karena tidak semua petinggi parpol yang beraliansi akan memegang tampuk kepemimpinan dalam pemerintahan.

Bagaimanapun persoalan Pemilihan Umum memang harus dibahas dari sekarang. Karena  setelah  SBY dipastikan tidak dapat maju kembali sebagai calon presiden, pemilu 2014 dipastikan akan berlangsung dengan tensi tinggi. Untuk itu perlu difasilitasi dengan sistem yang mengakomodir para pemilih dan partai politik sehingga pendewasaan Indonesia sebagai negara demokratis dapat tetap berlangsung. Penulis harapkan usul – usul penyederhanaan jumlah parpol dapat dipertimbangkan dan dimatangkan demi pembenahan sistem partai politik dan dapat menunjang sistem presidensial Indonesia.

(Telah diterbitkan di Radar Jogja)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s