Meledaknya Bom Waktu

Walking Time Bomb by ~bionic-dingo

Walking Time Bomb by ~bionic-dingo

Kasus kriminal di Bali, terutama pemerkosaan kepada anak di bawah umur, merupakan hasil dari bibit-bibit kriminalitas yang sudah tersemai. Kejadian 6 siswi SD yang diperkosa merupakan sebuah perbuatan kriminal biadab selain karena dilakukan dalam rentang waktu relatif pendek, yang dijadikan sasarannya adalah anak-anak yang masih memiliki masa depan panjang. Hal ini akibat dari lengahnya aparatur pemerintah dalam menangani kasus-kasus kriminal yang tergolong kecil bagi mereka. Setelah yang kecil-kecil dibiarkan menggunung, munculnya kasus menghebohkan seperti ini merupakan sebuah kewajaran. Dalam kasus pemerkosaan kali ini perbuatan yang dianggap remeh padahal dapat berakibat hal semacam ini yakni tontonan porno yang dapat kita akses dengan kedua mata kita tanpa kesulitan.

Tayangan vulgar yang dapat kita saksikan dalam layar kaca rumah kita tidak hanya dapat kita temui dalam program acaranya, iklan-iklan yang menyelingi setiap program acara saat ini sudah menjadikan tubuh molek wanita sebagai aset untuk memaksa pemirsa menolehkan kepalanya sejenak melihat produk mereka. Dengan kata lain televisi sudah menjadi sarana pemantik nafsu birahi yang dapat berujung pemerkosaan. Kita tidak hanya dapat menyalahkan televisi lalu membuang ke tempat sampah televisi yang ada di ruang tamu rumah kita, karena sarana media pemasaran produk sudah ada di jalanan, dinding, spanduk pada tiang listrik. Cengkraman pemasaran produk tidak akan membiarkan kita lolos untuk tidak melihat produk dan model wanita mereka.

Terlepas dari Bali yang merupakan sarang turis asing untuk berlibur, norma-norma susila harus tetap dikedepankan. Taruhannya adalah masa depan anak bangsa.

Belakangan muncul cuplikan di situs penyedia video mengenai aktifitas gigolo di Bali, walaupun tak lebih dari 5 menit itu merupakan cerminan bagaimana sebuah ekses kebiasaan budaya asing (baca: westernisasi) dapat berdampak luas bagi berbagai elemen masyarakat. Rakyat adat Bali yang memegang teguh pedoman agamanya akan sangat terhina jika pulau tanah air mereka digeneralisasikan dengan kegiatan asusila seperti itu.

Dalam differential association theory, perbuatan kriminal merupakan hasil dari pembelajaran, hal ini mempertegas peringatan terhadap media jika tidak ingin timbul siswi-siswi SD lainnya yang menjadi objek pemuas nafsu laki-laki karena melihat wanita molek yang menjadi aset mereka. Selain itu terlalu terbukanya pengabaran acara berita kriminal secara tidak langsung menjadi akibat penyebab kriminalitas. Banyak acara yang memberitakan kriminalitas terlalu mengekspos kronologi perbuatan kriminalnya, lalu masyarakat yang menontonnya akan mengerti tahap-tahapnya hingga akhirnya bukannya paham untuk menghindari melainkan paham untuk meniru.

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dirasa kurang antisipatif dalam menjaga masyrakat dari akibat laten acara-acara dan iklan-iklan yang mengudara di bumi pertiwi. Dalam pengaturannya sebenarnya jelas jika untuk hal-hal yang berbau vulgar walaupun implementasinya sangat kurang, namun untuk pemberitaan kriminal harus ada pembenahan dalam penyampaian beritanya. Sehingga kasus-kasus kriminal yang terjadi di Jakarta misalkan, tidak akan dapat diulangi di daerah lain. Karena pemerkosaan yang terjadi di Bali, peristiwa pemerkosaan terhadap anak-anak SD juga sering terjadi di Pokewali Mandar, Sulawesi Barat (Sulbar).

Sejak empat bulan terakhir, jajaran Unit Perlindungan Anak dan Perempuan (PPA) Kepolisian Resor Polewali Mandar, disibukkan dengan laporan kasus perkosaaan yang menimpa anak-anak sekolah di bawah umur.

Oleh karena itu jangan sampai kita biarkan kasus-kasus pemerkosaan ini terjadi di belahan nusantara lainnya. Jangan sampai pemberitaan pemerkosaan di berita sudah menjadi seperti gosip ibu rumah tangga yang kita dengar setiap hari, jangan sampai ada lagi siswi SD yang hancur masa depannya karena nafsu sesaat laki-laki karena melihat betapa vulgarnya tontonan layar kaca kita. Pengawasan harus diperketat, KPI wajib bertindak tegas dengan menghiraukan pancingan keuntungan ekonomi semata yang tanpa melihat akibat laten tayangan seronok.

(Telah diterbitkan di Balipost)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s