Berkacalah Pada Lalu Lintas Jakarta!

Behold the Prowess of JKT by ~shiningcin

Behold the Prowess of JKT by ~shiningcin

Judul diatas bukanlah imbauan pada Yogyakarta untuk meniru Jakarta dalam hal penataan lalu lintasnya, melainkan peringatan untuk menambah kewaspadaan Yogyakarta agar tidak menjadi calon kota lumpuh selanjutnya! Miris memang melihat keadaan ibukota Jakarta yang tengah bergelut dengan masalah lalu lintas, terlebih saat ini berbagai media terutama stasiun televisi nasional berlomba – lomba untuk mengumbar betapa semerawutnya lalu lintas kota Jakarta tersebut. Mediapun pada akhirnya mencari siapa kambing hitam yang harus bertanggung jawab akan masalah ini, lalu muncullah para pengguna sepeda motor yang membeludak sebagai tersangka, adapula para pengendara angkutan umum yang ugal – ugalan berhenti sekehendak hati. Namun akhirnya pemerintah daerah Jakarta-lah yang menjadi pesakitan karena tidak dapat menerapkan kebijakan yang tepat untuk menghindari situasi layaknya saat ini.

Mata rantai ini akan terus semakin panjang hingga nantinya akan membelenggu arus lalu lintas Yogyakarta jika tidak ada pembenahan yang dimulai dari sekarang.

Lalu bagaimana Yogyakarta? Daerah yang tergolong istimewa ini sudah selayaknya mulai membenahi lalu lintasnya agar tidak mengalami keadaan serupa. Hal ini dikarenakan jumlah para pendatang yang tertarik magnet Yogyakarta semakin lama semakin menggunung. Lihatlah jumlah mahasiswa yang datang untuk menetap dari berbagai sudut Indonesia tiap tahunnya, dan lihatlah jumlah turis yang datang untuk singgah menikmati pesona Yogyakarta tiap harinya. Cukup dua faktor tersebut untuk menjadi alasan yang menarik minat para investor agar memperluas jaringan usahanya hingga Yogyakarta dan hal ini akan berbuntut tertariknya minat para pencari pekerjaan dari daerah – daerah sekitar Yogyakarta. Mata rantai ini akan terus semakin panjang hingga nantinya akan membelenggu arus lalu lintas Yogyakarta jika tidak ada pembenahan yang dimulai dari sekarang.

Mengapa turis dan mahasiswa dapat menjadi sorotan utama dalam bertambahnya intensitas kendaraan di Yogyakarta? Coba tengok jalan yang bersinggungan langsung dengan dua hal tersebut. Jalan Kaliurang KM 4 – 6 yang terhubung langsung dengan Universitas Gadjah Mada misalkan, jalan ini sudah menjadi sentral usaha terutama dalam hal isi perut, bayangkan, dalam kurun waktu kurang lebih dua bulan terdapat tiga tempat makan baru yang terbilang cukup besar dan efeknya sangat terasa bagi para pengguna jalan karena lalu lalang kendaraan pengunjung yang antri untuk ikut mencicipi. Lain lagi Jalan Malioboro yang terkenal sebagai tempat berkerumunnya turis – turis Yogyakarta, jalan yang menghubungkan stasiun dan keraton ini benar – benar sudah padat terutama di sore hari. Tidak mengherankan memang, jalan malioboro adalah salah satu identitas Yogyakarta yang dipenuhi dengan aneka jajanan dan cinderamata sehingga daya tariknya sangat besar baik untuk turis dan warga Yogyakarta sendiri.

Melihat tanda – tanda tersebut, Pemerintah Daerah Yogyakarta sudah selayaknya untuk mulai memutar otak mencari cara yang paling tepat untuk mengurai benang kusut masalah tata kelola jalan. Dibanding Jakarta, Yogyakarta memang masih memiliki ruang yang lebih besar untuk bernafas, tapi itu tidak dapat menjadi alasan untuk menunda proses brainstorming mencari solusi permasalahan. Ada beberapa unsur yang dapat menjadi perhatian untuk dibenahi, pertama sinkronisasi antara pertumbuhan jumlah kendaraan dengan penambahan jumlah jalan. Cara ini seharusnya masuk dalam program kerja rutin Pemerintah Daerah Yogyakarta, karena peningkatan jumlah kendaraan akan selalu naik tiap tahunnya. Hal ini penting untuk diperhatikan karena jika tidak ada perencanaan matang dari jauh hari, penambahan jalan tidak akan dapat terlaksana karena akan selalu berbenturan dengan pembangunan kota. Sehingga jika terlambat dilaksanakan maka penggusuran rumah warga, taman kota, dan bangunan kuno tidak dapat dihindari.

Kedua, dapatpula dengan peremajaan angkutan umum, hal ini dapat dibarengi dengan mensosialisasikan penggunaan angkutan umum dalam kegiatan sehari – hari. Adanya bus – bus baru yang dilengkapi dengan shelter memang sebuah langkah mutakhir, namun bus – bus umum yang sudah ada sebelumnya jangan dilupakan begitu saja. Karena jika dibiarkan tetap beroperasi dengan keadaannya saat ini akan membuat masyarakat menjadi antipati, bus umum yang seharusnya memberikan kemudahan justru memberikan mimpi buruk. Secara gradual dibenahi baik secara fisik maupun sistemnya, ya sistem, karena tidak sedikit para supir bus umum yang nekat untuk melakukan pergantian giliran menyupir ditengah jalan saat sedang berhenti dipersimpangan lampu merah. Adapula karena berebut penumpang maka bus – bus umum tersebut menjadikan jalan umum Yogyakarta menjadi arena balap mereka untuk menjadi yang terdepan mendapatkan penumpang. Perilaku – perilaku seperti inilah yang menambah mimpi buruk masyarakat mengenai bus – bus umum sebab selain keselamatan supir, nyawa para penumpang dan para pengguna jalan lain menjadi taruhannya.

Ketiga, dalam hal peraturan perundang – undangan juga harus diperkuat dengan membuat peraturan yang dapat menunjang ketertiban pengguna jalan terutama dalam hal pembatasan jumlah kendaraan. Harus ada limitasi penggunaan suatu kendaraan, entah dengan menaikkan nilai pajak bagi kendaraan yang sudah uzur atau dengan sanksi tegas larangan menggunakan kendaraan yang sudah terlampau tua. Ini dapat menjadi pertimbangan pemerintah daerah terutama bagi kendaraan sepeda motor, karena jika dibiarkan terlalu lama sepeda motor akan sangat banyak jumlahnya hingga membludak dan karena ketergantungan masyarakat pada moda kendaraan ini, masyarakat akan sulit untuk meninggalkan sepeda motornya dan akhirnya sosialisasi pembatasan jumlah sepeda motor akan jauh lebih sulit untuk dilaksanakan.

Tiga elemen utama yakni kuantitas jalan, kualitas kendaraan umum, dan jumlah kendaraan bermotor akan menjadi sentral permasalahan yang harus diselesaikan. Jika ketiga elemen ini terkontrol maka mimpi buruk deadlock lalulintas di Yogyakarta hanya akan menjadi mimpi saja. Masyarakat pun harus dewasa untuk tidak egois mengedepankan kepentingannya dan mengabaikan hak orang lain untuk berlalu lintas dengan aman dan nyaman. Dengan kata lain melalui sistem yang terintegrasi dan dukungan dari pemerintah dan masyarakat luas, lalu lintas Yogyakarta akan menjadi panutan yang baik bagi daerah lain untuk berbenah diri pula.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s