Bola Panas Susno Bergerak Cepat

fire hand by ~iceblade21

fire hand by ~iceblade21

Pengakuan langsung dari susno mengenai adanya indikasi markus pada Kepolisian Republik Indonesia, membuat Kepolisian ketar ketir. Bahkan, Kapolri Bambang Hendarso Danuri mengakui kompetisi di lingkungan Kepolisian sudah terjadi sejak lama. Gambaran singkat mengenai kasus ini, Susno yang sudah mengetahui ada kongkalikong antara empat orang bawahannya dengan Gayus Lumbun, seketika dicopot dari jabatannya semula sebagai Kabareskrim.

Dan dua hari setelah pencopotan tersebut, ada pengiriman surat permintaan kepada Bank Panin agar rekening Gayus yang sebelumnya diblokir agar dibuka kembali, surat berkop Badan Reserse Kriminal ditandatangi Brigjen Raja Erizman. Walhasil Gayus dinyatakan tidak bersalah oleh Pengadilan Negeri Tanggerang. Kronologi inilah yang membuat Susno (mengaku) gerah dan membuat Izharry berinisiatif menulis buku mengenai Susno yang berisi fakta mengenai bola panas pengakuan Susno.

Menarik melihat kasus ini dari berbagai sudut pandang. Jika dilihat dari fakta yang ada, pengakuan Susno haruslah disambut Kepolisian dengan tangan terbuka dan diselidiki kebenarannya. Bukan sertamerta menuduh Susno melakukan pencemaran nama baik tanpa dasar yang jelas.

Selain Kepolisian, akan banyak institusi pemerintah yang mengutuk kelakuan Susno, sebab banyak pula yang percaya uang Rp25miliar tersebut dibagi masing–masing Rp5 miliar ke tiga institusi yakni Kepolisian, Kejaksaan, dan Pengadilan. Tak berlebihan jika kita memberikan standing applause pada Susno yang dengan gagah berani mengumbar berita ini hingga rela merepotkan dirinya sendiri untuk pergi ke luar kota seperti Yogyakarta dan Bogor semata–mata untuk membeberkan apa yang sebenarnya terjadi di balik Kepolisian.

Pengakuan Susno kali ini penulis yakini akan berbuntut panjang pada Kepolisian, sebab hal ini menambah masalah Kepolisian yang sebelumnya memang sudah menggunung. Mulai dari maraknya istilah cicak–buaya hingga terungkapnya sindikat baru teroris di Aceh. Selain itu kepercayaan masyarakat kepada Kepolisian juga akan semakin pudar karena dilunturkan oleh banyaknya sepak terjang Kepolisian yang dipandang sebelah mata oleh masyarakat.

Kejaksaan pun tak tinggal diam dengan dicorengnya nama mereka. Kejaksaan Agung Republik Indonesia bersama Kepolisian memperkarakan kasus ini sebagai pencemaran nama baik. Langkah memperkarakan pengakuan Susno ini merupakan langkah yang terlalu sembrono, sebab hal ini akan dipandang masyarakat sebagai tanda–tanda kembalinya rezim dibungkamnya kebebasan berpendapat.

Bayangkan, seorang mantan Kabareskrim saja diancam pidana pencemaran nama baik, entah apa yang terjadi jika yang melaporkan adalah rakyat jelata. Mungkin hanya menunggu waktu saat rakyat pemberani tersebut ditahan akibat kelakuannya.

Namun, bagaimana jika ini adalah siasat Susno untuk memulihkan nama baiknya setelah isu cicak–buaya yang ia hembuskan ke masyarakat luas? Di toko buku pada umumnya sudah ada dua buku mengenai Susno yang penulis rasa isinya tak lebih dari keluh kesah Susno itu sendiri.

Hal ini patut dipertanyakan, sebab banyak pertanyaan-pertanyaan yang menuju ke Susno mengenai pengakuannya. Jika ia benar–benar beritikad baik untuk membereskan internal Kepolisian, mengapa ia tak melakukannya sejak menjabat sebagai Kabareskrim? Sehingga dalam pengakuannya tidak akan terlihat sikap apatis dan balas dendam karena status non-aktifnya.

Jika dilihat dari kronologi kasusnya, indikasi markus justru terlihat pada saat kepemimpinan Susno di Kabarekrim. Tidak mengherankan jika Raja Erizman menangkis tuduhan keterlibatannya dalam indikasi adanya markus di tubuh Kepolisian dengan menyebut pengakuan Susno seperti maling teriak maling.

Ia mengaku sering melihat ada markus di ruang Susno dan ia memiliki buktinya. Perang dingin dalam Kepolisian memang tidak bisa ditutupi lagi. Saling jegal, saling cela, saling tuduh, layaknya anak kecil yang selalu merasa benar akan setiap perbuatannya.

Terlepas dari itu semua, pemerintah harus bertindak cepat. Maksimalkan fungsi tim Satgas Pemberantasan Korupsi, jangan sampai ada tebang pilih dalam penyelesaian kasus ini. Karena hal ini secara tidak langsung akan berimbas pada kinerja pemerintah dalam mengawasi kerja institusi–institusi pemerintah.

Jika ingin membersihkan citra buruk yang terlanjur menjadi pandangan umum masyarakat, ini adalah momentum yang tepat. Lepaskanlah rantai–rantai kepentingan politis yang selama ini menjerat kaki tangan pemerintah serta berpegang teguh pada high morality dalam penyelesaiannya, sehingga amanat penderitaan rakyat dapat terlaksana.

(Telah diterbitkan di Okezone.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s