Indone[sia]pa Yang Punya…

Ini tugas membuat naskah drama waktu SMP

Biar enggak jamuran di hardisk, mending di post

Semoga Menginspirasi!

The Dark Glass Forest by =AdamHunterPeck

The Dark Glass Forest by =AdamHunterPeck

 

 

When the Thunder Comes by `kkart

When the Thunder Comes by `kkart

Para pelaku :

  1. Jutawan

  2. Orang miskin

  3. Anak kecil

  4. Mahasiswa 1

  5. Mahasiswa 2

  6. Pohon

  7. Orang utan

 

Seting menggambarkan sebuah hutan yang isinya hanya ada pohon kering kerontang dan jumlahnya pun hanya ada beberapa buah saja, daun-daun kering berserakan di sekitar pepohonan tersebut. Bayangan hitam kelam membayangi hutan yang sama sekali sudah tidak ada tanda kehidupan, hanya ada bebatuan yang menyangga beberapa pohon sehingga tidak terjatuh walaupun akarnya sudah tidak kuat menahan beban pohon tersebut. Berdiri dengan gagahnya seorang jutawan kikir yang kerepotan dengan kotoran yang menempel di bajunya setelah berjalan-jalan di sekitar hutan mati tersebut. Dua telepon genggam di kedua tangan semakin membuktikan betapa kaya rayanya jutawan tersebut, daun-daun kotor dan kering yang berserakan di tempat ia berpijak tak mampu menutupi kilau dari sepatu yang harganya sama dengan satu buah motor.

 

Jutawan : “Hahahahaha… satu lagi hutan yang membuat pundi-pundi uangku bertambah sebanyak jumlah daun-daun dari pohon-pohon yang telah kutebang. Hutan Indonesia yang mulai dari tanah hingga daunnya bisa disulap seketika menjadi uang, sayang sekali kalau ditelantarkan begitu saja. Kalau kata orang tua, mubazir! Hahahaha…

( tertawa terbahak-bahak hingga perut buntalnya bergerak naik turun)

Si miskin : (datang dengan menunduk lalu segera duduk di salah satu pohon yang sudah terlihat hampir runtuh tak jauh dari Jutawan tersebut)

Jutawan : “Hahahahaha… ini, ini, ini! Salah satu contoh manusia yang tidak mau berusaha menghadapi tantangan hidup, hanya duduk termenung, diam tidak bergerak. Kau kira uang bisa turun begitu saja dari langit? Waktu adalah uang, uang adalah kesenangan, kesenangan adalah wanita! Hahahahaha…”

(wajah sinisnya terlihat sangat jelas dari raut mukanya)

Si miskin : (sedikit melirik, lalu kembali menunduk)

 

 

Mahasiswa 1, 2 : “ kembalikan hutan yang kalian tebang! Kembalikan hewan-hewan yang kalian bunuh! Kembalikan hasil tambang yang kalian jarah! Kembalikan kekayaan ibu pertiwi kami! Kembalikan zamrud khatulistiwa!

(dengan wajah yang terlihat sangat kesal dan penuh semangat berteriak hingga tampak urat leher mereka)

Jutawan :”Hahahahaha… sekeras apapun kalian berteriak, sekeras apapun kalian beryel-yel, sekeras apapun kalian berdemo. TIDAK ADA GUNANYA!!!

Semua oknum-oknum yang memayungi kalian sudah aku sumbat telinga mereka dengan uang! Hahahahaha…

(tidak bergeming menghadapi teriakan-teriakan tersebut)

Mahasiswa 1 : “biar saja teriakan, yel, dan demo kami tidak di dengarkan, tapi dunia masih mendengarkan kami!

Mahasiswa 2 : “biar saja oknum-oknum yang selalu haus dimanja uang panas tidak mempedulikan kami, tapi dunia masih berdiri di belakang kami!”

Jutawan : ”dunia? PBB? Hahahahha… itu semua palsu! Dusta!omong kosong! Kalian pikir hanya disini masalah yang dihadapi dunia ini? Setiap negara di seluruh negara memiliki berbagai macam masalah! Jangan pernah berpikir dunia akan menganak emaskan Indonesia!”

(membalas dengan lantang)

Si miskin : “sudah, sudah, sudah, berisik kalian semua! Teriakan kalian hanya mengganggu istirahatku!”

(segera beranjak dari tempat ia duduk dan berdiri di antara jutawan dan mahasiswa yang sedang beradu argumen)

Jutawan : “hahahahha… setelah bangun langsung sok tahu! Tahu apa kau? Hahahhaha…”

Si miskin : “aku adalah manusia yang paling menganggur diseluruh dunia, makan disuapi, mandi di guyurin, jalan di boncengin. Aku malas mengerjakan semua pekerjaan dunia ini!

Jutawan : “tidak ada yang menanyakan siapa kamu! Dasar dungu!”

Si miskin : “jelas aku tahu banyak hal, karena aku menganggur, aku banyak menghabiskan banyak waktuku untuk melihat peristiwa-peritiwa yang terjadi di Indonesia. Melihat dari koran yang berserakan di pinggir jalan, menonton TV dari toko elektronik, mendengar radio di pos ronda, begitulah”

Mahasiswa 1 : “ah! gara-gara manusia macam kamu, kami harus bersusah payah memperjuangkan nasib manusia macam kamu!”

Mahasiswa 2 : “gara-gara manusia macam kamu, kami kehilangan waktu belajar kami untuk berdemo mempertanyakan nasib manusia macam kamu!”

Mahasiswa 1,2 : “kami bosan, kami lelah, tapi kami tidak tega, kami merasa kasihan.

Si miskin : “tidak ada yang pernah meminta kepada kalian melakukan hal tersebut, tidak ada yang pernah memohon kepada kalian melakukan hal tersebut, Itu urusan kalian.

Anak kecil : “permisi, bapak-bapak, kakak-kakak. Aku sedang tersesat, apakah ada yang mengetahui jalan keluar dari hutan yang gelap ini?”

(dengan pakaian yang rapi tetapi dengan celana pendek yang sangat lusuh)

Jutawan : “ ada apa nak? Tersesat? Hahahhaha… minta tolong saja pada ibumu!”

Mahasiswa 1 : “kemarilah nak, jangan mendekati orang tamak itu.”

Mahasiswa 2 : “iya, jangan sampai kau diculik dan nantinya ikut dijual”

Jutawan : “ha! Kalian berdua! Kurang ajar! Jangan hanya berani beradu urat leher! Adu urat otot di sini, sekarang!

Mahasiswa 1, 2 : “apa! Kamu pikir kami hanya bisa adu mulut? Adu otot pun kami sering!

(mereka langsung menyerang, saling baku hantam)

si miskin : “ayo sini nak, jangan ikut perkelahian di sana. Nanti kamu bisa di jadikan senjata mereka. Beginilah keadaan Indonesia saat ini.

 

Seketika keadaan menjadi semakin gelap, gemuruh petir menggelegar bagaikan gendang yang terus ditabuh tak ada hentinya oleh dewa petir. Pohon-pohon yang semula diam membisu tak bergerak, tiba-tiba berlarian kesana kemari. Dari balik gelapnya hutan muncul orang utan besar yang ikut berlarian bersama pohon-pohon yang sudah berlarian dari awal. Si miskin berpelukan erat dengan anak kecil tadi karena ketakutan, sdangkan jutawan yang semula bertengkar dengan dua mahasiswa, kini juga saling berpelukan. Namun setelah petir berhenti bergemuruh, keadaan kembali menjadi tenang dan situasi terkontrol kembali.

 

Pohon : “hoahm! Olah raga setelah tidur sekian lama ternyata sangat, sangat, sangat menyegarkan!

(dengan wajah sedikit pucat sambil melakukan beberapa gerakan aerobik)

orang utan : “betul! Aku sangat setuju denganmu, olahraga setelah istirahat panjang ternyata sangat menyegarkan! Tapi apa yang terjadi dengan badanmu? Kurus, kering, kerontang seperti tidak di makan selama setahun.

Pohon : “ah! tidaaaaak! Tubuh mulusku? Ah tidaaaaaak! Daun-daunku? Ah! tidaaaaaaak! Akar-akarku? Apa yang terjadi selama aku tidur?

Tapi, tubuhmu juga aneh, bulu-bulu di tubuhmu sepertinya banyak yang rontok?”

(sambil memeriksa bagian tubuhnya satu persatu)

Orang utan : “ah! tidaaaaak! Bulu-bulu blondeku? Ah! apa yang terjadi selama aku tidur?”

(sambil memeriksa bagian tubuhnya satu persatu)

Mahasiswa 1 : “ hei, pohon! Yang pantas bertanggung jawab atas kerusakan bagian-bagian tubuhmu adalah jutawan ini! Ia telah merusak ekosistem hutan ini! Kalau ingin murka, murkalah kepada dia!”

Mahasiswa 2 : “hei, orang utan! Yang wajib bertanggung jawab atas rontoknya bulu-bulumu adalah jutawan ini! Selain itu dia juga menagkap hewan-hewan yang ada di hutan ini untuk di jual! Kalau ingin murka, murkalah kepada dia!”

Jutawan : “apa-apaan kalian! Justru kalian yang harus berterima kasih kepadaku! Aku telah mengolah sumber daya alam di Indonesia sebisaku! Sehingga devisa Indonesia pun akan bertambah! Seharusnya orang miskin pun harus berterimakasih kepadaku, begitu pula dengan anak kecil plin plan itu!”

Si miskin : “hahahahha…. hanya berapa persen yang kau berikan dari hasil penolahan sumber daya alammu? Berapa persen? Dibandingkan dengan jumlah uang yang telah kau hambur-hamburkan untuk kesenangan sesaat, uang yang kau berikan kepada kami orang miskin sangat sedikit!”

Anak kecil : “ya, betul! Akibatnya, kami anak-anak Indonesia tidak memiliki uang untuk sekolah, waktu untuk bermain, kasih sayang untuk dimanja. Sedangkan kau, dengan uang yang terus mengalir seperti sungai, bisa mendapatkan apa sajayang kau inginkan hanya dengan gesek kartu kredit saja.”

Si miskin : “ya, dan akhirnya anak-anak Indonesia akhirnya akan menjadi seperti dia! Bingung, tersesat, tidak memiliki arah tujuan hidup, tidak memiliki tempat bernaung. Selain itu seperti pakaian yang ia kenakan, masa depannya di pertanyakan, apakah akan mejadi suram seperti sekarang, atau terang benderang gemilang pada saatnya nanti.”

Orang utan : “betapa terkutuknya kau menagambil sumber daya alam yang seharusnya tidak milikmu seorang!”

Pohon : “betapa terhinanya kau merampas hak-hak orang miskin yang seharusnya tidak milikmu seorang!”

Mahasiwa 1 : “tidak peduli dengan nasib para mahasiswa yang harus bersusah payah meminta orang tuanya untuk mendapatkan uang agar bisa tetap kuliah, sehingga banyak orang tua yang rela menjual rumah dan harta benda lainnya agar anaknya bisa sekolah!

Mahasiswa 2 : “tidak peduli dengan nasib para mahasiswa yang nanti akan mencari pekerjaan untuk memulai hidup baru, bisa kau bayangkan berapa banyak pengangguran yang berjubel untuk berebut mata pencaharian!”

Mahasiswa 1,2 : “APAKAH KAU TIDAK PEDULI DENGAN ITU SEMUA?”

(orang utan, pohon, si miskin, anak kecil, dan kedua mahasiswa berdemo sekeras mungkin di depan jutawan mempertanyakan nasib mereka)

jutawan : “ah! berisik kalian semua! Itu semua karena kalian tak pandai mencari uang! Itu semua karena kalian kurang beruntung! Itu semua karena kalian tidak mau berusaha! Kalian pikir mendapatkan uang sebanyak ini dengan usaha yang kecil, yang mudah, yang instant?”

(menghamburkan uang-uang dari dalam saku dan dompetnya)

mahasiswa 1, 2 : “tetapi cara kau mendapatkan uang sebanyak itu yang harus dipertanyakan!

Pohon, orangutan: “berapa banyak sumber daya alam yang kau eksploitasi? Berpa banyak laut yang kau cemari? Berpa banyak hutan yang kau tebangi? Berpa banyak tambang yang kau rampas?”

Si miskin, anak kecil : “ berapa banyak uang yang kau ambil dari hak-hak orang miskin dan anak miskin? Berapa banyak pekerjaan orang yang baru mendirikan perusahaan yang kau hancurkan karena monopoli semata? BERAPA BANYAK ORANG YANG JATUH MISKIN KARENA ULAHMU!

Jutawan : “t..te..tetapi banyak yang harus aku kerjakan selain membantu kalian semua, mengurus ini, mengurus itu, sana, sini dan masih banyak lainnya!

Si miskin, anak kecil: “tapi itu semua tetap tidak sebanding dengan orang yang rumahnya di gusur dan orang yang menjual rumahnya karena alasan ekonomi!

Mereka harus tinggal dipinggir jalan, mencari pekerjaan baru, banting tulang kesana kemari kesitu kesini keatas kebawah”

Mahasiswa 1, 2 : “ITU SEMUA TIDAK SEBANDING!!!”

Jutawan : “tapi itu semua tidak akan berpengaruh kepadaku, selama aku menutup mata, telinga, dan seluruh panca inderaku. Jadi jerit tangis dan amarah mereka tidak mengganggu pekerjaanku!

Semuanya selain jutawan : “ya tuhan, berikanlah manusia tamak ini pelajaran agar ia sadar akan perbuatannya, amin”

 

Seketika keadaan menjadi gelap dan petir kembali bergemuruh laksana dewa petir dan dewa angin sedang bertempur seperti dalam mitologi jepang, laksana dewa zeus yang sedang berkecamuk dengan amarahnya seperti dalam mitologi yunani, laksana raiju macan petir yang sedang kelaparan mencari mangsa untuk disambar seperti dalam mitologi china. Semua orang lari kesana kemari mencari perlindungan, namun semua pohon telah rubuh disambar petir. Namun setelah petir berhenti bergemuruh, keadaan kembali menjadi tenang dan situasi terkontrol kembali.

Jutawan tergeletak sendiri ditengah hutan yang porak poranda, ditinggal yang lain saat mereka semua melarikan diri.

Jutawan : “semuanya sialan! Tega meninggalkan aku sendirian! Ehm, kenapa tak ada yang menjawab? Ah! kenapa aku tidak bisa melihat? Kenapa aku tidak merasakan apa-apa? Dimana uangku? Dimana harta bendaku? Dimana istriku? AAAAAAAAHHHHH……!!!!!!!!!!

 

Jutawan yang akhirnya menjadi gila karena semua panca inderanya tidak berfungsi, lari ketengah hutan sendirian. Dan hutan mati yang semula menjadi ladang uang untuk jutawan, sekarang menjadi saksi bisu kutukan tuhan untuk jutawan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s