Mahasiswa Prestatif

after 4 years by ~mh2enough

after 4 years by ~mh2enough

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhan-mu yang menciptkan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhan-mulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Al-Alaq 1-5)

Seorang manusia, terlebih seorang mahasiswa diwajibkan baginya untuk menuntut ilmu sebanyak-banyaknya dan mengamalkannya. Ibarat pohon yang ditanam, ilmu yang telah diamalkan  akan kita panen buahnya saat pertanggung jawaban ketika Yaumul Hisab di hadapan Zat Yang Maha Kuasa. Tanpa mengesampingkan manfaatnya di akhirat nanti, ilmu yang kita dapat akan sangat menunjang semua aspek kehidupan kita. Secara sosial kita tidak akan tersesat dengan warna tempat kita mencelupkan diri dalam keseharian kita, karena dengan pegangan ilmu yang dimiliki, kita seharusnya menjadi warna tersendiri dan menambah gradasi warna yang telah ada. Tak terkecuali dibidang akademis, ilmu yang sudah matang dikepala kita ini akan menjadikan kita sebagai insan yang prestatif, dengan kata lain kita akan menjadi manusia prduktif dengan prestasi –prestasi yang kita ukir. Menghadapi dunia pekerjaan dimana berlakunya hukum rimba, prestasi-prestasi inilah yang akan menjadi amunisi bagi kita sekaligus bukti konkrit kualitas kita dalam perhelatan kolosal dunia perkerjaan.

Dunia perkuliahan dirasakan menjadi saat yang paling tepat dalam memperkaya diri dengan ilmu, sebab itu adalah saat dimana seorang manusia telah manjadi matang dan siap untuk dirasuki dengan berbagai macam ilmu. Selain itu lingkungan yang mendukung adalah poin postif yang sangat membantu kita dalam menggarap ilmu, akan banyak ditemui seminar – seminar dengan tema yang beragam, diskusi dari skala kecil hingga internasional, dan kompetensi yang sangat sengit (dan sehat) akan terus memompa semangat kita. Mengaplikasi ilmu sehingga menjadi sebuah prestasi juga tak kalah banyak lahannya, berbagai lomba dari tingkat fakultas hingga internasional dapat kita ikuti tanpa terkecuali. Setelah semua syarat untuk menjadi prestatif terpenuhi, kemauan dalam diri individulah yang yang akan menjadi tuntutan terakhir untuk menjadi mahasiswa prestatif.

Seorang motivator kondang pernah berkata, tugas kita bukanlah untuk berhasil. Tugas kita adalah untuk mencoba, karena dalam mencoba itulah kita akan menemukan dan belajar membangun kesempatan untuk berhasil. Dalam perjalanan kita untuk menjadi mahasiswa prestatif akan sering timbul sikap rendah diri yang pada akhirnya mengurung niat kita untuk melakukan terobosan baru. Banyak sekali penulis temukan dalam lingkungan kampus, orang – orang yang memiliki kemampuan besar dan kesempatan yang besar pula untuk ikut lomba tingkat internasional, namun menghentikan niatnya karena tidak percaya diri dengan kemampuannya dan terintimidasi dengan kemampuan lawan yang dia anggap berada sangat jauh diatas kemampuannya. Sikap rendah diri seperti itu tidak jarang ditemui dalam perjalanan panjang menjadi mahasiswa prestatif, akan sangat disayangkan jika kita memendam jauh kemampuan kita. Itu sama saja dengan memotong tangan dan kaki kita dalam usaha menggapai sesuatu. Percaya dengan kemampuan kita dan jangan menhindari yang tidak mungkin, dengan mencoba sesuatu yang tidak mungkin, kita akan bisa mencapai yang terbaik dari yang mungkin kita capai.

Setelah keinginan yang kuat telah muncul, cari bidang yang paling tepat untuk kita. Bagi yang memiliki kelebihan secara verbal dapat mengikuti lomba debat, jika secara visual dapat mengikuti lomba desain maupun melukis, yang unggul secara motorik dapat berkecimpung di berbagai bidang olahraga, dan sebagainya. Namun yang sering menjadi permasalahan banyak orang yaitu di bidang manakah mereka dapat unggul? Tidak sedikit orang yang salah mempersepsikan dirinya sendiri dalam hal potensi diri, dan akhirnya tidak mendapat hasil yang maksimal. Untuk mengatahuinya mulailah dengan mencari hal dalam kehidupan sehari-hari kita yang dapat membuat kita bangun pagi sekali, yang dapat membuat kita lupa betapa pentingnya istirahat, yang dapat memaksa kita untuk makan hanya sekali dalam sehari karena ketertarikan yang begitu kuat untuk mengerjakannya. Dengan begitu anda akan mengetahui dimana letak potensi diri anda dan dapat mengasahnya dengan sempurna sehingga kecermelangan anda dapat menghasilkan prestasi yang membanggakan.

Akan tetapi bagaimana jika kita sudah terlambat untuk menggali potensi diri kita? Bagaimana jika kita sudah terlanjur mendalami suatu hal dan akan menjadi seratus langkah kebelakang jika harus membanting setir ke bidang lain dan memolesnya dari awal? Masalah inipun kerap menghinggapi sebagian dari kita, dan inipun yang terkadang menjadi alasan utama mandeknya kuantitas prestasi yang kita capai. Salah satu cara yang dapat dilakukan ialah dengan membakati hal yang sudah kita tekuni selama ini, sehingga ini tidak menghalangi anda dalam meraih prestasi yang diimpikan. Tentu saja hal ini akan sulit pada awalnya, tetapi dengan menyadari betapa esensialnya hal ini dalam menentukan nasib masa depan anda dan disertai kerja keras yang maksimal sudah sewajarnya akan mendapat kredit tersendiri.

Setelah kita selesai dengan diri kita sendiri, carilah wadah yang dapat menampung potensi kita atau yang biasa disebut oraganisasi. oraganisasi tersebut akan banyak kita temui dilingkungan kampus, baik dalam lingkup fakultas maupun universitas. Dengan mengikuti organisasi tersebut kita dapat bercermin dari orang lain dan minimal kita akan mendapat tolak ukur perbandingan kualitas sehingga dapat mengetahui sudah sejauh mana kemampuan kita. Transfer ilmupun akan menjadi lebih mudah dibandingkan dengan mempelajari sendiri, sesuai dengan asas gotong royong yang menjadi ruh bangsa kita. Tawaran –tawaran kompetisi pun akan membanjiri kita, dan kesempatan untuk menjuarainya akan terbuka lebih lebar.

Semua hal yang telah disebutkan diatas tak lebih dari sekedar teori, namun akan menjadi bersifat aplikatif jika langsung dipraktekkan dalam kehidupan sehari – hari. Meminjam istilah Aa Gym, mulai dari yang terkecil, mulai dari yang paling dekat, mulai dari sekarang. Insya Allah, jika suatu saat prestasi yang kita angan – angankan tercapai, selalu dilandasi dengan high morality, sehingga tidak akan membuat kita menjadi takabur dan tidak sadar bahwa ini adalah titipan dari Yang Maha Kuasa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s