Refleksi Setahun Kinerja Parlemen

Terkenang Masa Kejatuhan Pak Harto

rinaldimunir.wordpress.com

Hari Jumat 1 Oktober 2010 kita memperingati setahun kerja Dewan Parlemen kita yang terhormat (jika masih layak dihormati). Refleksi mungkin adalah sebuah kegiatan klise yang tidak akan pernah terlewatkan, refleksi kinerja yang mungkin akan membuat para anggota dewan panas telinganya. Ya, bagaimana tidak? Kunjungan kerja ke luar negeri yang menghabiskan milyaran rupiah cukup membuat rakyat geleng – geleng kepala. Ditambah rencana renovasi gedung DPR yang juga menghabiskan milyaran rupiah, adapula dana aspirasi yang masih berkisar diangka milyaran. Jika mereka selama ini hanya menjadikan uang sebagai orientasi utama, masih pantaskah mereka disebut pemegang mandat rakyat di pemerintah? Sama saja dengan koruptor yang banyak memangkas APBN negara, hanya saja tidak ada unsur melawan hukumnya. Parlemen yang berasal dari kata parle yang artinya menyuarakan ternyata tidak termanifes dengan baik dikepala anggota dewan. Penulis rasa jika diadakan referendum, mayoritas rakyat akan memilih opsi “Tidak Setuju” jika ditanyakan pendapatnya mengenai, kunjungan luar negeri anggota dewan. Ya, wajar. Sebab uang rakyat yang mereka gunakan untuk melancong! Tanpa mempedulikan antrian RUU yang sudah menunggu untuk disidang. Hanya 8 dari 70 RUU yang baru selesai dibahas adalah bukti konkrit bahwa mereka lupa mengerjakan PR mereka. Penulis rasa masih banyak fakta empiris yang patut untuk digunjingkan kepada mereka, fakta – fakta yang membuat kita bertanya – tanya sebenarnya siapa yang mereka wakili di Gedung MPR?

Dilihat dari badan – badan yang terdapat dalam sistem legislatif, elemen – elemen yang diwakili hanyalah unsur kedaerahan dan unsur politik. Walaupun keduanya merupakan hasil pemilihan langsung yang dilakukan oleh masyarakat, tapi penulis belum melihat ada produk unggulan hasil dari sidang di Gedung DPR – MPR tersebut. Produk unggulan yang tercurah dari aspirasi masyarakat mayoritas, sebuah kebijakan yang membuat para pedadang di pasar tersenyum lebar, undang – undang yang membuat para pembayar pajak merasa aman dengan uang mereka setor ke pemerintah, keputusan yang menjadikan anak – anak dapat melangkah girang ke sekolah. Lucu jika penulis bayangkan 10 Tahun yang akan datang, keadaan Dewan Parlemen saat ini menjadi bahan cerita dongeng di Buku Bahasa Indonesia anak SD seperti cerita Si Kancil Anak Nakal yang lihai menipu hewan – hewan lainnya. Dapat pula keadaan menyedihkan ini terdapat di buku Sejarah IPS anak SMP atau SMA (jika masih sama namanya (sederajat)). Mungkin mereka akan bingung dan bertanya – tanya “kok, masih mau memilih mereka untuk jadi anggota dewan ya?” atau “kalau bisa hidup enak kayak begitu, pasti saat itu semua orang cita – citanya jadi anggota dewan”.

Memilih anggota dewan memang sebuah pilihan sulit pada tiap Pemilu. Jika kita tidak memilih akan dicibir sebagai golput dan di tuduh tidak berperan aktif dalam sistem demokrasi di negeri ini. Namun jika turut serta memilih, tangan ini seperti berlumuran dosa karena telah meloloskan orang – orang yang ternyata manja setengah mati ke Gedung Parlemen. Sebuah jebakan demokrasi yang benar – benar nyata dan sulit dibantah. Tidak hanya sampai disitu, jebakan demokrasi juga masih terlihat setelah mereka terpilih. Pada saat mereka sangat menjengkelkan seperti saat ini, dan menyuarakan suara kita secara halus dengan tulisan skala publik akan dianggap sebagai pencemaran nama baik. Jika kita mengeluarkan urat leher kita dengan berteriak keras akan dianggap anarki atau demokrasi yang kebablasan. Tak heran jika demokrasi hanya disebut sebagai yang terbaik diantara yang terburuk.

Partai politik yang seharusnya melaksanakan tugasnya untuk menyeleksi orang – orang yang diajukan untuk dipilih seperti tidak melakukan apapun. Tak ubahnya seperti kue tart ulang tahun yang super duper lezat siap dibagi – bagi, parpol hanya membagi manisnya kemenangan dalam pemilu bagi jajaran didalamnya, terutama para petinggi. Dan rakyat seperti semut yang baris ramai – ramai untuk menjilat sisa manisnya kue yang menempel dipiring. MATI.

Mengingat Fungsi Laten

Cukuplah marah – marahnya, mari dilengkapi dengan rekomendasi agar tulisan ini tidak hanya menjadi curhat semata. Pertanyaan simpel yang menyeruak untuk merangkum protes – protes diatas sebenarnya apa yang harus dilakukan Anggota Dewan yang terhormat agar lepas dari hujan kritik? Hal mendasar yang harus diingat pertama ialah 3 tugas utama Anggota Dewan regulating, budgeting, supervising. Sempat disinggung sebelumnya bahwa dari 70 RUU dalam Prolegnas hanya 8 yang telah dibahas, bahkan UU Badan Hukum Pendidikan yang dulu merupakan hasil dari adu urat leher anggota dewan telah ditolak sepenuhnya oleh Mahkamah Konstitusi. Belum lagi kebijakan kenaikan tarif dasar listrik yang memaksa masyarakat luas mengencangkan ikat pinggang. Sebagai wakil rakyat, selayaknya DPR membersihkan lubang telinganya agar dapat mendengar aspirasi – aspirasi konstituennya, sehingga input yang masuk sabagai bahan pertimbangan kebijakan dapat selaras dengan outputnya dan fungsi regulating dapat berjalan dengan maksimal.

Budgeting, mengatur APBN adalah pekerjaan sarat kepentingan. 20% bagi pendidikan merupakan kemajuan yang patut diapresiasi, namun jangan sampai berhenti disitu. Kesehatan hanya mendapat sekitar 2% dari total APBN. Padahal kesehatan adalah isu sentral dari ujung barat hingga ujung timur dan berdampak sistemik bagi bidang – bidang lain. Agaknya sistem prioritas di anggota dewan harus dikaji ulang sehingga janji – janji untuk meningkatkan mutu dan kualitas masyarakat dalam berbagai bidang dapat tercapai karena dana adalah bagian penting yang sangat menentukan. Lalu supervising, pengawasan terutama bagi jajaran pemerintah. Sesuai dengan mandat UUD 1945 yang sudah mengalami 4 tahapan perubahan yang salah satu tujuan utamanya adalah menghilangkan otoritarianisme dalam pemerintahan. Fungsi inilah yang sering menjadi dalih bagi anggota dewan mengapa kinerja mereka tidak maksimal, namun jika ingin flashback kasus Century yang (katanya) sangat menyita waktu mereka untuk melaksanakan fungsi lainnya, penulis tidak melihat hasil yang signifikan pasca Pansus Century bekerja. Bahkan isu ini tertutup oleh ribut – ribut antara teroris dan Polri. Masih jauh panggang dari api !

Betapa sebuah amanah yang berat bagi lembaga legislatif negeri ini. Alangkah bijaksana jika mereka menyikapinya dengan sebuah pengabdian nyata, terdengar utopis memang, tapi jika semua berhenti berusaha dan berharap maka perubahan menuju ke arah yang lebih baik tidak akan pernah terwujud. Harus ada reformasi total! Berhenti menjadi badut lawak yang kerjanya hanya tertawa di dalam sidang, berhenti menjadi biduan yang kerjanya saat sidang hanya menyanyi bernada satir, berhenti menjadi burung hantu yang siang harinya dalam sidang digunakan untuk tidur, berhenti main kucing – kucingan lalu absen menghadiri sidang, berhenti menjadi anak manja yang selalu mengharapkan mainan (baca: gedung) baru, berhenti menjadi pelancong yang berfoya – foya di luar negeri. CUKUP.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s