Dikotomi Kebijakan Indonesia

Cerita lama menguak kembali, konflik antara Malaysia dan Indonesia lagi – lagi tersulut. Kali ini terjadi karena penangkapan petugas kelautan Indonesia oleh anggota diraja Malaysia yang konon terjadi di wilayah Indonesia sendiri. Keterlaluan memang jika ini terbukti benar – benar terjadi di wilayah Indonesia, karena Malaysia telah melanggar kedaulatan wilayah Indonesia. Hingga akhirnya rakyat geram luar biasa dan berujung pada pelemparan feses manusia ke Kedubes Malaysia di Indonesia, selamat kepada media yang berhasil memanaskan isu ini.

Setelah melakukan diskusi dengan berbagai pihak, saya meyakini bahwa ini adalah isu yang sebenarnya tidak begitu krusial namun menjadi besar karena ini merupakan sebuah akumulasi. Banyak konflik yang telah terjadi sebelumnya antara Indonesia dan Malaysia, sebut saja ancaman hukuman mati bagi ratusan TKI di Malaysia, semerawutnya kasus Ambalat, klaim budaya – budaya Indonesia oleh Malaysia, dan masih banyak lagi lainnya yang tak terjangkau media. Hampir seluruh elemen masyarakat angkat bicara mengenai hal ini, tak tanggung – tanggung idiom “Ganyang Malaysia” yang dahulu di teriakkan Soekarno saat ini kembali diteriakkan sebagai rasa kecewa dan kesal atas apa yang terjadi pada bangsa Indonesia saat ini. Namun adapula yang setuju dengan rute yang ditempuh Pak Presiden dan jajarannya dengan jalan diplomasi. Walaupun sebenarnya langkah apapun yang ditempuh Indonesia sebagai reaksi atas kelakuan Malaysia selama ini tidak ada yang absolut benar dan tidak pula absolut salah.

ini adalah isu yang sebenarnya tidak begitu krusial namun menjadi besar karena ini merupakan sebuah akumulasi

Jalur diplomasi yang saat ini sedang ditempuh oleh Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa yang datang ke Malaysia tepatnya di Kinabalu, banyak yang menganggap ini sebagai langkah pengecut dan tidak bertaji. Akan tetapi hal ini memang harus dilakukan karena diplomasi adalah langkah yang paling pertama harus dilakukan oleh suatu negara jika terlibat konflik dengan negara lain. Selain itu mengapa Pak Presiden lebih cenderung pada jalur diplomasi, karena hal – hal yang dipertaruhkan sangat banyak. Nasib dua juta TKI di Malaysia lalu hubungan bilateral yang selama ini telah terjalin baik dalam kerjasama ekonomi ataupun pendidikan.

Tapi sekali lagi, tidak ada yang absolut benar. Sikap Pak Presiden yang menganut asas zero enemy and thousands friends banyak ditenggarai akan menjadi citra buruk bagi Indonesia sendiri, karena ternyata dalam pergaulan internasional sebuah sikap tegas dan berkarakter dari seorang pemimpin negara akan memberikan kesan mendalam bagi negara lain. Dengan kata lain intimidasi perlu untuk dilakukan sesekali dalam menghadapi persinggungan dengan negara lain. Intimidasi tidak identik dengan pernyataan perang, namun dengan mengecam keras dan memaksa negara yang bersangkutan untuk meminta maaf atas kelakuannya termasuk dalam kategori TEGAS.

Sikap Pak Presiden yang menganut asas zero enemy and thousands friends banyak ditenggarai akan menjadi citra buruk bagi Indonesia sendiri

Jika boleh agak berandai – andai, apabila Pak Presiden sependapat dengan apa yang diminta mayoritas rakyatnya untuk kembali menggaungkan GANYANG MALAYSIA! Lebih mementingkan harga diri bangsa Indonesia yang dirasa telah diinjak – injak, kira – kira apa yang akan terjadi kemudian? Pertama pemutusan hubungan diplomatik kedua negara, duta besar masing – masing negara akan dipanggil kembali ke negaranya. Begitu pula dengan dua juta TKI di Malaysia harus dipulangkan, ini benar – benar merupakan sebuah pekerjaan berat. Indonesia akan menyiapkan segala peralatan tempurnya yang termasuk dalam 40 besar dunia. Taktik perang Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta (HANKAMRATA) kemungkinan akan digunakan, dengan kata lain wajib militer bagi seluruh rakyat Indonesia, walau secara pribadi saya sanksi dengan nasionalitas anak muda saat ini. Malaysia pun akan mempersiapkan diri untuk perang, walaupun secara kualiltas tidak sebanding dengan Indonesia namun akan banyak negara yang berdiri dibelakang Malaysia. Sebagai negara persemakmuran, Malaysia akan mendapat suntikan tenaga dari Inggris, Singapura, Selandia Baru, dan Australia. Bayangkan posisi Indonesia yang saat ini terapit negara – negara tersebut, Indonesia akan digempur dari seluruh penjuru mata angin.

Pernyataan perang memang sebuah pilihan berat, karena konsekuensinya akan berat pula. Akan tetapi dalam Article 24 ASEAN Charter, disebutkan didalamnya bahwa dalam menghadapi sebuah konflik harus diselesaikan dengan jalan damai. Sehingga apa yang dilakukan Indonesia dengan memilih diplomasi memang On The Right Track Based On Positive Law. Memang sudah lama kita merindukan sebuah pernyataan revolusioner, pernyataan yang terkadang merupakan sebuah Law Breaktrough yang menggegerkan berbagai pihak termasuk dunia Internasional. Seperti ketika Indonesia menjadi satu – satunya negara yang pertama dan terakhir keluar dari PBB. Entah keadaan saat ini yang mengintervensi pola kebijakan yang diambil Pak Presiden, atau memang benar – benar Pak Presiden yang konsekuen dengan prinsipnya yang tidak ingin cari musuh.

Seperti yang penulis utarakan sebelumnya, apapun kebijakan yang diambil tidak akan ada yang absolut benar dan absolut salah. Jika kita memilih diplomasi, hubungan akan kembali pulih (apabila negosiasi berhasil). Tapi sebuah pemakluman dari kita bagi mereka terkadang akan menjadi bumerang balik bagi kita sendiri, dan mereka tidak akan kapok untuk menancapkan cakarnya kembali di wilayah kita. Lalu jika kita lebih memilih adu urat otot dibanding adu urat leher, maka ini akan memberikan sebuah shock therapy (apabila kita menang dalam perang) sehingga kedaulatan Indonesia yang diwariskan para pahlawan terdahulu dapat dijaga. Namun ingat pepatah kalah jadi abu menang jadi arang, ada kemungkinan Indonesia akan dikecam terutama dari teman – teman ASEAN karena telah melanggar kesepakatan untuk tidak menggunakan kekerasan dalam penyelesaian konflik, plus menjadi ending dari kisah romantis dua negara Islam serumpun ini.

Tanggal 6 September di Kinabalu tengah berlangsung diplomasi antar Indonesia dan Malaysia membahas tentang konflik keduanya. Walau saat ini jalur diplomasi tengah di tempuh, tetap tidak menutup kemungkinan bagi Pak Presiden menyuarakan perang jika diplomasi ternyata memperburuk keadaan. Penulis harap, kali ini Pak Presiden tidak mengecewakan pahlawan – pahlawan yang rela bercucuran darah membela tanah air, tidak mengecewakan orang tua – orang tua para TKI yang saat ini nasibnya masih terombang ambing di negeri Jiran, tidak mengecewakan kami rakyat Indonesia yang telah mempercayakan nasib kami ditanganmu Pak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s