Dehumanisasi Perempuan Di Media Kaca

“Laki – laki terus memandang perempuan, dan perempuan menonton diri mereka dipandangi laki – laki” (Naomi Wolf)”

woman by ~yummyauri

woman by ~yummyauri

21 April yang diperingati sebagai hari Kartini oleh masyarakat Indonesia selalu menghadirkan suatu semangat untuk adanya pembaharuan dalam berbagai hal yang berkaitan dengan perempuan. Walaupun masih menjadi kontroversi apakah benar Kartini yang membawa semangat feminisme dan apakah benar feminisme menjadi permasalahan di Indonesia, tapi semangat pembaharuan perempuan Indonesia harus tetap dipertahankan. Pembaharuan perempuan dalam rezim saat ini dimana media menjadi penguasa juga tidak boleh luput dari pengawasan kita. Media kaca atau yang lebih populer dengan sebutan televisi selalu hadir dalam rutinitas tiap individu siapapun mereka tanpa pandang bulu. Maka ketika televisi saat ini sangat dekat dengan masyarakat, maka pengaruhnya pun akan sangat besar bagi masyarakat.

Coba anda perhatikan tayangan – tayangan yang diperlihatkan televisi, entah itu iklan suatu produk, sinetron keluarga, acara reality show, acara komedi,  hingga tayangan berita selalu mempertontonkan perempuan paras rupawan. Konsep tersebut selalu dilakukan berulang – ulang hingga akhirnya terbentuk sebuah mitos kecantikan. Seperti dalam teori feminisme eksistensial yang dicetuskan oleh Simone De Bauvoir, yakni eksistensi perempuan dihadirkan bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk orang lain. Itulah yang terjadi pada perempuan dalam dunia televisi saat ini! Dengan kata lain perempuan saat ini dianggap sebagai sebuah komoditas yang mendatangkan keuntungan bagi pihak yang berkecimpung dalam dunia televisi, dengan memanfaatkan mitos kecantikan yang telah terbentuk di masyarakat. Ironis.

perempuan saat ini dianggap sebagai sebuah komoditas yang mendatangkan keuntungan

Oleh karenanya tidak berlebihan jika penulis menganggap fenomena ini sebagai sebuah bentuk dehumanisasi bagi perempuan. Silahkan tengok keadaan iklan – iklan yang selalu menjadi selingan di tiap program – program acara televisi. Demi membuat para pemirsa televisi tidak beranjak dari tempat duduknya untuk melihat produk yang diiklankan, mayoritas pelaku pembuat iklan menggunakan sihir paras dan tubuh elok perempuan untuk memasarkan produk mereka. Tidak jarang pula terdapat produk – produk yang mempermainkan mitos kecantikan itu sendiri, hal ini seringkali dilakukan dalam pemasaran produk kecantikan. Pemilihan diksi kata yang menyempitkan makna cantik sangat sering dijumpai, hingga akhirnya membentuk opini publik semisal bahwa cantik adalah yang memiliki kulit putih, bahwa cantik adalah yang memiliki rambut lurus panjang, bahwa cantik adalah yang langsing, dan sebagainya.

feminist. by ~yammiedoo

feminist. by ~yammiedoo

Hal tersebut tentu sangat tidak sehat bagi dunia pertelevisian Indonesia, karena hanya mementingkan keuntungan ekonomi semata, tanpa memperhitungkan akibatnya bagi harkat dan martabat perempuan. Telebih jika kondisi itu mempengaruhi program – program acara televisi. Ambil contoh acara berita dalam televisi. Para penggiat program berita pun sering kali menggunakan paras elok perempuan sebagai pemanis dalam penyampaian berita – berita televisi. Hal ini baru yang terlihat di permukaan, dalam seluk beluk kegiatan jurnalisme juga tidak jarang menggunakan kecantikan perempuan sebagai ujung tombak. Misalnya agar para polisi, politikus, hingga penjabat publik mau diwawancara dalam peliputan berita, jurnalis yang terjun langsung haruslah yang cantik.

Kondisi – kondisi itulah yang melatarbelakangi media untuk berkiblat pada mitos kecantikan. Imbasnya akan timbul stereotip – stereotip yang menggentayangi perempuan dalam dunia media kaca. Stereotip tersebut lebih lanjut akan menciptakan suatu imaji patriarkhis yang membagi perempuan menjadi dua kelompok yakni perempuan sebagai “kecantikan tanpa intelejensia” atau “intelejensia tanpa kecantikan”. Imaji tersebut mengurung perempuan yang notebene berorientasi feminis eksistensial pada dua pilihan tersebut, dan tidak akan ada pilihan memiliki intelejensia dan kecantikan sekaligus. Hal – hal seperti itu tentu sangat ingin kita hindari. Maka harus ada terobosan – terobosan penting yang harus dilakukan minimal untuk mereduksi fenomena yang telah menjamur ini.

suatu imaji patriarkhis membagi perempuan menjadi dua kelompok yakni perempuan sebagai “kecantikan tanpa intelejensia” atau “intelejensia tanpa kecantikan”

Pemerintah yang dalam hal ini sebagai penyelenggara negara harus peka terhadap masalah ini. Tentu harus ada kebijakan  – kebijakan yang berkaitan dengan tayangan televisi sehingga dapat mengakomodir kepentingan perempuan agar tidak dikurung dalam mitos kecantikan. Selain itu pelaku dunia televisi juga harus melakukan berbagai upaya khusus untuk mendukung pembaharuan, terutama pada penghilangan pola pikir bahwa ketika menghilangkan mitos kecantikan maka akan menghilangkan keuntungan. Ambil contoh besar acara Oprah Winfrey Show, dalam acara tersebut ia berhasil menggiring para pemirsa untuk memilih media yang realistis bukan media yang mengedepankan mitos.

Para pemirsa televisi pun harus menyesuaikan diri untuk tidak termakan pola  – pola strategi pelaku dunia televisi yang hanya mementingkan keuntungan ekonomis. Sehingga dengan usaha bersama seluruh elemen televisi, sangat besar peluang untuk meruntuhkan dinding baja mitos kecantikan. Dehumanisasi perempuan yang diakibatkan mitos tersebut akan sangat luas dampak yang ditimbulkan, karena televisi adalah konsumsi semua elemen masyarakat. Hal ini tentu bertentangan dengan karakter bangsa Indonesia sebagai bangsa yang beradab, sesuai dengan Pancasila sila kedua. Oleh karenanya ini adalah tanggung jawab seluruh rakyat Indonesia untuk mengembalikan citra perempuan Indonesia sesuai dengan karakter bangsa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s