Mengejawantah Sosok Ibu

Mother's Day Latte 1 by *MonkDrew

Mother's Day Latte 1 by *MonkDrew

Hari ibu tentu memiliki kesan mendalam bagi banyak orang. Hari yang dijadikan momentum bagi banyak orang untuk mengingat jasa-jasa yang telah dicurahkan seorang ibu. Miris, karena manusia sebagai tempat salah dan lupa ternyata membutuhkan reminder bahkan untuk menyayangi ibu mereka yang telah merawat, mengasuh, mengasihi, dan kalimat positif berimbuhan me- lainnya.

SD

SD

Selama 20 tahun saya hidup di dunia tentu diawali dari sebuah rahim seorang ibu. Sebuah tempat yang digambarkan dalam Al-Quran begitu kokoh dengan sistem anti suara, anti cahaya, dan anti guncangan. Canggih. Begitu luar biasa apresiasi Allah SWT yang menempatkan sebuah perangkat luar biasa tersebut didalam perut setiap perempuan. Merekalah yang menjadi tempat ditiupkannya ruh pada sebuah jasad berupa daging kasar yang membalut tulang belulang yang menyerupai bentuk manusia, berkembang, hingga akhirnya menjadi bayi yang merupakan buah cinta abadi sepasang manusia.

Ilustrasi tersebut saya rasa akan menjadi definisi siapa yang dimaksud dengan ibu sampai saat ini. Mereka yang mengandung dan melahirkan. Tapi saya berfikir dan saya bertanya, apakah benar sesempit itu? Saya yang sempat dibesarkan dalam asuhan nenek saya dan sempat dididik oleh bibi-bibi saya, terbersit pula sosok seorang ibu dalam kasih sayang mereka.

membimbing saya dari seorang berandal menjadi seorang handal

Mrs. Daskian (Nini) (Nenek)

Mrs. Daskian (Nini) (Nenek)

Masih kental diingatan saya ketika masih SD tidak hafal secara sempurna QS Al-Fatihah dan Do’a iftitah yang selalu dibaca dalam setiap shalat, bibi saya-lah yang membantu saya menyempurnakan, amal jariyah bagi beliau dalam setiap shalat saya. Masih jelas diingatan ketika saya masih tenggelam dalam selimut dikamar, nenek saya sudah bangun saat shubuh, sibuk memasak nasi, menggoreng lauk, menyiapkan bekal, merapihkan seragam dan sepatu demi saya dan adik-adik saya sekolah. Saya pun yakin banyak sekali ibu guru yang telah membimbing saya dari seorang berandal menjadi seorang handal. Syahdan, sungguh besar peran mereka.

Tante Silvy (bibi)

Tante Silvy (bibi)

Kasih sayang dari sosok-sosok tersebut tidak kalah besar dari kasih sayang ibu kandung saya. Dan itulah yang menggelitik saya untuk sekedar menulis, sebagai sebuah apresiasi yang lahir dari jari jemari saya yang dapat menari gemulai berkat kasih sayang mereka, yang lahir dari otak yang bekerja secara brilian berkat asupan ilmu mereka. Sungguh, ini satu-satunya cara yang dapat saya fikirkan untuk membalas budi mereka. Belum dengan uang, belum dengan rumah mewah, dan belum dengan kendaraan flamboyan. Hanya tulisan. Untuk membuktikan bahwa curahan kasih sayang mereka telah berbuah manis, tidak sia-sia

nenek saya sudah bangun saat shubuh, sibuk memasak nasi, menggoreng lauk, menyiapkan bekal, merapihkan seragam dan sepatu demi saya dan adik-adik saya sekolah.

Saya tidak ingin terlalu mengorek cerita manis dalam kehidupan saya, tapi ini adalah sebuah ajakan untuk meneropong sosok ibu. Tidak hanya yang melahirkan, tapi juga yang turut serta mendidik, turut serta mengasuh, turut serta menyayangi tanpa peduli dengan hubungan kandung secara lahiriah. Maka hari ibu sewajarnya adalah momen spesial bagi tiap orang untuk mengingat dan membalas budi setiap sosok ibu yang telah membentuk dirinya saat ini. Tidak hanya untuk ibu kandung tapi juga untuk para perempuan yang rela menjadi ibu demi mengurus diri kita agar menjadi manusia yang paripurna. Selamat hari ibu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s