Menyoal Implementasi REDD+ Di Indonesia (III)

B. Menelusur Pendanaan REDD+

smoking kills - II by ~a-drop-of-silence

smoking kills - II by ~a-drop-of-silence

Pada dasarnya ide utama dari mekanisme REDD+ adalah pendanaan dari negara maju, yang akan digunakan untuk membiayai kebutuhan negara berkembang dalam menekan emisi karbon melalui penekanan deforestasi dan degradasi hutan. Dengan kata lain pengurangan emisi atau deforestasi yang dihindari diperhitungkan sebagai kredit, jumlah kredit karbon yang diperoleh dalam waktu tertentu dapat dijual ke pasar karbon  internasional, sebagai alternatif, kredit yang diperoleh dapat diserahkan ke lembaga pendanaan yang dibentuk untuk menyediakan kompensasi financial bagi negara-negara peserta yang melakukan konsevasi hutannya.[1]

Maka dari itu REDD+ dalam pelaksanaannya memiliki tiga macam pendekatan pendanaan REDD, yaitu:[2]

  1. Direct Carbon Market, perusahaan negara industry membeli kredit REDD untuk emissions allowance dalam system cap-and-trade di negerinya. Dengan REDD perusahaan ini diperbolehkan mengemisi lebih dari kuota  didalam negerinya dan dikompensasi dengan pencegahan emisi dari deforestasi dan degradasi di negara berkembang. Pendekatan ini  seperti untuk CDM (project baseline) dan kemungkinan akan memasukkan REDD-national baseline setelah REDD menjadi bagian dari pasar carbon pasca 2012. Potensi  pendanaandiperkirakan mencapai puluhan milyar dollar pertahun.
  2. Market linked, pendekatan ini menciptakan pendanaan melalui pelelangan pendapatan atau alokasi allowance untuk REDD dari system cap-and-trade, atau dengan menciptakan dual-market-system dimana kredit  REDD tidak fungible dengan allowance negara industry. Potensi pendanaan  diperkirakan mencapai  beberapa puluh milyar dollar per tahun.
  3. Voluntary, pendanaan sukarela yang berasal dari individu atau negara tidak dikaitkan dengan sistem cap-and-trade di negerinya. Seperti kontribusi Norwegia 2,6 Milyar dollar yang diumumkan di Bali merupakan salah satu contoh voluntary initiative. Perusahaan dan stakeholder lain juga dapat membeli kredit yang sekali kredit dibeli tidak lagi dapat digunakan untuk emissions compliance di pasar karbon. Potensi pendanaan diperkirakan hanya mencapai ratusan juta dollar per tahun.

 

Pemasukkan berupa dana segar dari sistem yang diciptakan melalui REDD+ memang menjadi isu sentral dari upaya meminimalisir deforestasi dan degradasi. Sebuah tinjauan yang disponsori oleh Pemerinta UK telah memperkirakan bahwa biaya investasi sebesar US $ 13-33 Milyar akan dibutuhkan tiap tahunnya untuk mengurangi setengah emisi gas rumah kaca dari hutan sampai tahun 2030.[3] Berikut penjelasan terperinci mengenai rincian dana yang dibutuhkan dalam usaha menekan deforestasi dan degradasi;

save our trees II. by ~hendryong

save our trees II. by ~hendryong

Seberapa mahalkah kebijakan semacam ini bagi pemerintah? Penelitian yang dilakukan tim ilmuwan yang dipimpin oleh Brendan Fisher dari Universitas Princeton yang dipublikasikan dalam Nature Climate Change3 menjawab pertanyaan ini dengan kasus di Tanzania. Pertama-tama, mereka memperhitungkan biaya oportunitas REDD+ yang diukur dari keuntungan saat ini atas produksi pertanian dan arang. Ditemukan bahwa nilainya berkisar antara USD 3,20 sampai dengan 5,50 per tCO2, yang berada jauh di bawah harga karbon saat ini untuk pasar karbon Eropa.

Selanjutnya, tim peneliti mempertimbangkan pertanyaan tentang berapa biaya yang harus dikeluarkan pemerintah atau donor untuk mengimplementasikan kebijakan yang meningkatkan efisiensi hasil pertanian dan arang sehingga mengurangi tekanan terhadap hutan. Mereka memperkirakan bahwa biaya ini berada pada kisaran USD 4,6 sampai dengan 9,40 per tCO2, jauh di atas biaya oportunitas. [4]

Dari pemaparan diatas dapat kita pahami bahwa meskipun telah disuplai dengan dana dari REDD+ ternyata margin besar dana yang dibutuhkan suatu negara untuk menekan deforestasi dan degradasi hutan masih sangat lebar. Sehingga tidak mengherankan jika isu finansial ini selalu menjadi tanda tanya besar dalam itikad dunia untuk menekan deforestasi dan degradasi hutan.


[1] CIFOR, 2010, Op.cit.

[2] Nur Masripatin, 2008, Op.cit.

[3] Climate Change Media Partnership, 2009, Op.cit.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s