Menyoal Implementasi REDD+ Di Indonesia (IV)

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, REDD+ dengan menggunakan mindset bahwa untuk mengurangi karbon emisi, dibanding memilih untuk menekan produksi karbon fosil industri negara maju, maka warga dunia cenderung untuk memilih menekan deforestasi dan degradasi hutan di negara berkembang. Lalu menjadi pertanyaan besar, apakah REDD+ menjadi obat mujarab bagi permasalahan emisi karbon? Bagaimanakah kendala yang muncul di lapangan? Kali ini pembahasannya akan difokuskan pada dua aspek, yakni persoalan pendanaan dan masyarakat adat.

C. Komplikasi Dana REDD+

Deforestation by ~MGOMEZDESIGN

Deforestation by ~MGOMEZDESIGN

Persoalan dana REDD+ memang menjadi masalah utama. Ada beberapa kendala terkait pendanaan pada skema REDD+, pertama dari mindset yang dibangun dalam REDD+. Sepintas kebijakan untuk memberikan dana segar pada negara berkembang sebagai pendorong pihak pemerintahnya untuk menekan deforestasi dan degradasi hutan seperti misi suci yang sangat mulia. Namun perlu diperhatikan dalam pendekatan pendanaan REDD+ yang salahsatunya menggunakan system direct carbon market, memperlihatkan seolah-olah negara maju saat ini seperti melakukan penghapusan dosa atas sumbangsih karbon fosil hasil kegiatan industri masifnya. Padahal kegiatan industri itulah yang menjadi persoalan pokok emisi karbon di dunia.

Semua negara dan Organisasi Internasional seolah-olah putus asa untuk membujuk Amerika Serikat, Rusia, China, Inggris, dan negara-negara industri lainnya untuk menekan gelontoran karbon fosil yang tidak hentinya membumbung ke atmosfer. Lalu negara berkembang yang memiliki hutan lebat dengan skala besar seperti Indonesia dan Brazil layaknya pihak yang harus menanggung dosa negara-negara tersebut. Dengan kata lain hutan yang ada harus terus dipertahankan, pembukaan hutan untuk perkebunan adalah haram hukumnya, amanah reboisasi hutan lestari harus terus berjalan, dan biarkan negara maju menanggung biayanya dengan syarat industri yang penuh karbon fosil yang ada harus tetap berjalan dan berkembang. Ini baru permasalahan mindset.

seolah-olah negara maju saat ini seperti melakukan penghapusan dosa atas sumbangsih karbon fosil hasil kegiatan industri masifnya

Stop Deforestation by ~mclelun

Stop Deforestation by ~mclelun

Permasalahan lain terkait dengan dana REDD+ adalah transparansi dan akuntabilitas. Bayangkan, permasalahan deforestasi dan degradasi hutan mayoritas terjadai pada negara yang tidak memiliki order yang kuat dalam aspek penerapan hukumnya, sehingga marak pelanggaran hukum dan perilaku koruptif dalam bidang Kehutanan. Lalu pihak dunia melalui skema REDD+ akan membuka keran yang mengucurkan dana segar untuk menekan deforestasi dan degradasi hutan. Maka silogisme yang muncul kemudian adalah apakah dana segar dari skema REDD+ akan digunakan sebagaimana mestinya dan aman dari jangkauan tangan-tangan korup?

Sangat jelas, deforestasi paling serius terjadi pada daerah dimana peraturan pemanfaatan lahannya lemah dan tidak ditegakkan dengan baik, penyuntikkan dana REDD+ kedalam area seperti itu dapat memperbesar terjadinya korupsi, eksploitasi, dan pelanggaran hukum.1 Dalam konteks Indonesia yang mendapat gelar sebagai negara paling tinggi angka korupsinya di wilayah Asia Pasifik, persoalan korupsi ini menjadikan REDD+ semakin sulit diterapkan.

1 Climate Change Media Partnership, 2009, Op.cit.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s