Menyoal Implementasi REDD+ Di Indonesia (V)

A Level Art - Resubmission by ~Loser-Kid05

A Level Art - Resubmission by ~Loser-Kid05

D. Reposisi Masyarakat Adat Dalam Skema REDD+

Persoalan pelik kedua yang menjadi batu sandungan implementasi REDD+ adalah posisi masyarakat adat yang akan sangat sulit untuk melepaskan dirinya dari hutan. Bagi masyarakat adat, hutan adalah tempat tinggal, hutan adalah mata pencaharian, hutan adalah tempat bermain. Dari data yang dimiliki, disebutkan bahwa lebih dari 60 juta rakyat Indonesia bergantung pada hutan.1

Ambil contoh besar yang terjadi pada masyarakat Adat Dayak di Kalimantan Tengah yang wilayahnya menjadi uji coba implementasi skema REDD+ yang bekerja sama dengan Asutralia. Seperti yang telah disinggung diawal, Mantir Adat di Kadamangan Mantangai Kabupaten Kapuas Kalimantan Tengah memberikan catatan kritis dan penilaian terhadap perkembangan proyek REDD tersebut.2

lebih dari 60 juta rakyat Indonesia bergantung pada hutan

The Axeman Cometh by ~Degare

The Axeman Cometh by ~Degare

Pertama, penunjukkan area proyek REDD yang berada di wilayah Adat masyarakat Dayak yang meliputi 14 Desa/Dusun di Kecamatan Timpah dan Kecamatan Mantangai Kabupaten Kapuas, dilakukan tanpa melalui pemberitahuan dan konsultasi terlebih dahulu dengan masyarakat Dayak.3 Hal ini membuktikan bahwa posisi masyarakat disini tidak diperhitungkan sebagai pihak yang berkepentingan, padahal jelas sekali yang aktif melakukan kegiatan pada lokasi proyek REDD tersebut adalah masyarakat Adat Dayak.

Kedua, dalam pelaksanaan proyek REDD seringkali ada tekanan pada masyarakat secara fisik dan psikologis serta menjanjikan uang hingga jutaan rupiah kepada setiap warga jika mendukung kebijakan REDD, imbasnya selama kehadiran proyek REDD membuat masyarakat menjadi resah dan konflik antar sesama warga, akhirnya saling curiga, dan tidak ada lagi kedamaian yang tercipta di desa-desa.4 Sangat mengenaskan melihat fenomena tersebut. Pihak pelaksana REDD tidak bisa menciptakan lingkungan kondusif pada masyarakat Adat yang bersangkutan dan timbul ekses-ekses yang sangat bertentangan dengan nilai-nilai adat yang menjunjung tinggi musyawarah dan kekeluargaan.

Pihak pelaksana REDD tidak bisa menciptakan lingkungan kondusif pada masyarakat Adat yang bersangkutan dan timbul ekses-ekses yang sangat bertentangan dengan nilai-nilai adat

Ketiga, implementasi dan arahan program REDD yang dilakukan oleh pelaksana proyek menggunakan lembaga KFCP, Yayasan BOS, CARE International, Wetland, Perguruan Tinggi, lebih banyak memberikan tekanan pada warga untuk menutup akses dan pengabaian terhadap hutan adat, perkebunan, dan mata pencaharian perikanan yang di klaim wilayah REDD.5 Ini merupakan penegasan bahwa dalam implementasi REDD, sejak awal masyarakat adat tidak pernah diberikan pengakuan. Bahkan, proyek REDD tidak pernah memberikan jaminan secara tertulis atas pengakuan wilayah adat masyarakat adat Dayak.6

Dalam pernyataan sikapnya, Mantir Adat di Kadamangan Mantangai memberikan penilaian bahwa;

Ini merupakan sebuah tindakan tidak memiliki keadilan, kami tidak bisa menerima. Proyek REDD adalah akan dimiliki oleh Australia sebagai penyerap industry kotor Australia (emisi) dan jelas-jelas miliki asing. Justru sebaliknya kami yang merupakan lahir dan besar sejak sebelum negara ini merdeka tidak pernah mendapat keadilan atas wilayah kelola.

Sad Injun by ~Lollermundo

Sad Injun by ~Lollermundo

Sayang sekali mekanisme REDD yang menawarkan insentif kepada negara-negara yang memiliki hutan dengan imbalan negara-negara tersebut mau menjaga bahkan mengunci kawasan hutannya, secara otomatis membatasi akses dan partisipasi masyarkat local terhadap hutan karena hutan berubah menjadi global common goods.7

Menurut catatan Walhi telah terjadi 356 konflik yang melibatkan penduduk lokal, negara, perusahaan perkebunan dan kehutanan sepanjang tahun 2003 hingga 2007 yang tersebar di 27 Provinsi yang merupakan ekses dari proyek konservasi lahan.8 REDD+ tentu menambah panjang rekam jejak konflik tersebut. Sudahlah, transplantasi kebijakan di Indonesia harus tetap memegang teguh nilai-nilai yang telah menjadi local wisdom. Betapapun berkilaunya sebuah berlian, jika pada akhirnya menimbulkan konflik yang pekat dengan itikad buruk, maka hilanglah kilau berlian tersebut tertutup pekatnya konflik.

1 ______, 2009, “Dampak Skema REDD Terhadap Akses Masyrakat Sekitar Hutan dalam Memanfaatkan Sumber Daya Alam”, http://unhas.ac.id/fahutan/index.php/id/halaman-wacana-a-opini/5-dampak-skema-redd-terhadap-akses-masyarakat-sekitar-hutan-dalam-memanfaatkan-sumber-daya-alam.pdf, diakses 12 Desember 2011.

2 Mantir Adat Kadamangan Mantangai, 2011, “Hentikan Proyek REDD Indonesia-Australia Di Wilayah Adat Dayak Kalimantan Tengah”, http://www.walhi.or.id/id/ruang-media/pernyataan-sikap/973-hentikan-proyek-redd-indonesia–australia.html, diakses 12 Desember 2011.

3 Ibid.

4 Ibid.

5 Ibid.

6 Ibid.

7 ______, 2009, “Dampak Skema REDD Terhadap Akses Masyrakat Sekitar Hutan dalam Memanfaatkan Sumber Daya Alam”, Op.cit.

8 Ibid.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s