Dampak Penerapan Outsourcing di Indonesia (I)

outsourcing by ~HikingArtistCom

outsourcing by ~HikingArtistCom

NAPAK TILAS SISTEM OUTSOURCING

Untuk mengetahui titik permasalahan secara menyeluruh, alangkah baiknya jika melakukan pendekatan historis. Karena dengan begitu akan diketahui raison d’etre dari sebuah masalah, bagaimana perkembangannya dari zaman ke zaman, hingga eksis sampai saat ini. Sama halnya dengan sistem outsourcing, harus dilihat bagaimana sistem ini dulu dilahirkan pada masa kolonial, perkembangannya, hingga menjadi momok yang menakutkan bagi para tenaga kerja saat ini.

Kali ini pembahasannya akan dimulai dari masa pemerintahan Hindia Belanda yang mengkerangkeng bangsa Indonesia dengan sistem tanam paksa. Dilihat bentuk sistem outsourcing pada masa itu dan dibandingkan dengan yang ada saat ini.

A. Sistem Outsourcing Pada Masa Penjajahan

Outsourced by ~GrinningManiac

Outsourced by ~GrinningManiac

Pada saat Belanda datang ke Indonesia untuk memeras sumber daya hayati yang digemari saat itu oleh bangsa Eropa yang tidak lain adalah rempah-rempah, mereka membuat sebuah sistem yang dapat mengakomodir kepentingan mereka. Rempah-rempah yang mereka panen dari masyarakat Indonesia mereka bawa kembali ke Eropa, mereka jual untuk salah satu tujuan utama mereka, yakni gold.

Untuk memaksimalkan usaha mereka menjual rempah-rempah tersebut mereka membuat sebuah sistem tanam paksa (monokultur) yang melibatkan masyarakat Indonesia untuk bekerja keras banting tulang menghasilkan rempah-rempah sebanyak-banyaknya. Salah satu programnya dapat dilihat di Deli Serdang. Kebijakan itu diatur oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda dalam peraturan Np. 138 tentang Koeli Ordonantie. Peraturan tersebut kemudian direvisi lagi dengan dikeluarkannya surat keputusan Gubernur Jendral Pemerintah Hindia Belanda Nomor 78.[1]

mereka membuat sebuah sistem tanam paksa (monokultur) yang melibatkan masyarakat Indonesia untuk bekerja keras banting tulang menghasilkan rempah-rempah sebanyak-banyaknya.

Dari kulitnya terlihat manis kebijakan tersebut, karena akibatnya akan dibuka banyak lapangan pekerjaan bagi masyarakat Indonesia untuk bercocok tanam, mereka akan beramai-ramai memproduksi berbagai hasil tanaman. Sehingga komoditas tanaman seperti tembakau yang terkenal dari Deli akan semakin meroket popularitasnya di kancah perdagangan internasional.

Coca Cola by ~98433

Coca Cola by ~98433

Untuk memuluskan rencana tersebut dibentuklah organisasi yang diberi nama Deli Planters Vereeniging, organisasi tersebut bertugas untuk mengkoordinasikan perekrutan tenaga kerja (koeli) yang murah. Selanjutnya, Deli Planters Vereeniging ini membuat kontrak dengan sejumlah biro pencari tenaga kerja untuk mendatangkan buruh-buruh murah secara besar-besaran terutama dari daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Deli Planters Vereeniging bekerjasama dengan para Lurah, para Kepala Desa, para calo tenaga kerja, untuk mengangkut kaum bumi putra meninggalkan kampung halamannya menuju tanah perkebunan. Mereka kemudian diangkut ke Batavia, dan di Batavia mereka wajib “menandatangani” perjanjian kontrak yang yang saat itu disebut sebagai Koeli Ordonantie.[2] Dari sini sudah dilihat bagaimana penyerapan tenaga kerja secara besar-besaran yang diambil dari daerah lain untuk dieksploitasi di tanah perkebunan (onderneming), demi memenuhi permintaan pasar akan hasil tanaman rempah-rempah.

Deli Planters Vereeniging ini membuat kontrak dengan sejumlah biro pencari tenaga kerja untuk mendatangkan buruh-buruh murah secara besar-besaran

Star Wars Outsourced by ~sethness

Star Wars Outsourced by ~sethness

Kolonialisasi pada para koeli Indonesia semakin terlihat jika melihat sistem hierarki para tenaga kerja. Para koeli orang Jawa tersebut dipekerjakan di bawah pengawasan mandor yang bertanggung-jawab atas disiplin kerja dan mendapatkan upah sebesar 7,5% dari hasil kelompok upah para koeli yang dipimpinnya. Adapun tingkatan selanjutnya diatas mandor ialah mandor kepala sebagai pengawas mandor, dan selanjutnya para mandor kepala ini diawasi oleh asisten pengawas. Para asisten pengawas ini bertanggungjawab kepada administratur perkebunan. Selanjutnya, para administratur bertanggungjawab kepada tuan juragannya, yaitu para investor yang memiliki perkebunan itu.[3]

Pemerasan yang dilakukan oleh para mandor tentu saja juga dilakukan oleh atasan-atasannya dan yang memikul semua beban itu tidak lain adalah para koeli  yang telah memeras keringat menggarap perkebunan. Bayangkan, hingga para calo dan tuan juragan atau ondernemer secara tak langsung juga melakukan pemerasan. Hutang dan biaya yang diangggap sebagai hutang seperti biaya transportasi dari Jawa ke Deli, biaya makan, biaya pengobatan, biaya tempat tinggal, dengan upahnya yang minim itu seringkali baru dapat terbayarkan lunas setelah para koeli bekerja selama lebih dari 3 tahun kontrak kerja.[4]

Sistem outsourcing  yang terjadi pada masa penjajahan tersebut memang tidak jauh berbeda dengan yang terjadi saat ini. Ada pihak yang menyedot dan mengumpulkan para tenaga kerja, lalu dipekerjakan tempat yang asing bagi mereka.

B. Sistem Outsourcing Pada Masa Kemerdekaan

child labour by ~yash2506

child labour by ~yash2506

Indonesia bebas dari penjara kolonialisme tidak berarti bebas dari jeratan ketidakadilan dalam bidang ketenagakerjaan. Tidak mengherankan jika Revrisond Baswir mengatakan Indonesia saat ini sedang meluncur menuju penyempurnaan neo-kolonialisasi.[5] Bagaimana sebuah kebijakan pada sebuah negara berdaulat dibentuk namun tetap menanamkan paham kolonialisme pada rakyatnya, ini adalah penjajahan bentuk baru dengan menggunakan kewenangan sebuah negara pada rakyatnya.

Pada masa awal kemerdekaan terdapat perekrutan tenaga kerja yang dilakukan oleh Dinas Tenaga Kerja (Disnaker). Saat itu terdapat kartu kuning bagi para tenaga kerja, dan kartu kuning tersebut adalah sebagai sumber data bagi Disnaker dalam melakukan perekrutan. Sehingga ketika ada sebuah perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja, Disnaker sewaktu-waktu dapat memanggil tenaga kerja yang dibutuhkan.

kebijakan pada sebuah negara berdaulat dibentuk namun tetap menanamkan paham kolonialisme pada rakyatnya

Berbeda dengan saat ini ketika UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan disahkan, sistem outsourcing diperbolehkan dan merajai sistem perekrutan tenaga kerja di Indonesia. Inilah yang menjadi tonggak sistem outsourcing yang sering disalahgunakan oleh para pihak yang bersangkutan, baik perusahaan pengguna jasa ataupun perusahaan penyalur. Begitu simpang siur sistem ini berjalan, tetap tidak ada satupun peraturan perundang-undangan di bidang ketengakerjaan yang menjelaskan lebih lanjut perlindungan terhadap pekerja/buruh dalam melaksanakan outsourcing. Kalaupun ada, hanya Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 2 Tahun 1993 tentang Kesempatan kerja waktu tertentu atau (KKWT), yang hanya merupakan salah satu aspek dari outsourcing.[6]

Harapannya memang untuk menyehatkan ekonomi makro Indonesia, membuka kesempatan lebar bagi para investor, menjadi doping bagi perusahaan-perusahaan pengguna jasa. Tapi ketika tidak diatur secara rinci, ketika tidak diawasi prakteknya, ketika perlindungan tenaga kerjanya tidak dihormati sistem outsourcing ibarat tanaman hama yang mematikan sumber makanannya. Rakus.


[1]           Ign. Taat Ujianto, “Outsourcing”, http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=5593, diakses 10 Oktober 2011.

[2]               ibid

[3]               ibid.

[4]               ibid.

[5]               Revrisond Baswir, 2009, Manifesto Ekonomi Kerakyatan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, hlm. 124.

[6]           Erwin Arianto, “Pekerja Outsourcing”, http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=4991, diakses 30 Oktober 2011.

3 responses to “Dampak Penerapan Outsourcing di Indonesia (I)

  1. sistem outsourcing bila terapannya tidak diawasi dengan efektiv,, bnyak penyimpangan ataupun penyalahgunaan sistem ini,, sehingga outsourcing bukan hanya satu lapis saja bahkan ada yang sudah menggunakan lima lapis…
    kesejahteraan yang didapat pada buruh2 kita diindonesia tidak tercapai,, hanya cukup untuk memenuhi kehidupan yang pas-pasan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s