2011; Membidik Tahun Pengabdian

klikunic.com

klikunic.com

Tahun 2011 sudah lewat dengan segala hiruk pikuknya. Banyak sejarah bagi diri saya yang terjadi dalam tahun tersebut. Yang positif antara lain menjadi juara debat nasional, dan  masuk pesantren, sedangkan yang negatif mendapatkan IP dan IPK dibawah standar mahasiswa UGM pada umumnya. Saya menganggap berbagai hal positif dan negatif yang datang bergantian sebagai sebuah  aksi-reaksi. Saya tenggelam dalam kegiatan-kegiatan Keluarga Muslim Fakultas Hukum (KMFH) karena menjabat sebagai Pengurus Harian akhirnya ikut tenggelam pula IP dan IPK yang saya harap hanya karena faktor tugas dosen yang tidak selesai dan absen.

Saya menganggap berbagai hal positif dan negatif yang datang bergantian sebagai sebuah  aksi-reaksi

Benar-benar tahun individualis. Teringat jelas dalam otak saya pada awal tahun 2011 saya menargetkan untuk mendapatkan 12 prestasi dalam waktu satu tahun, dengan kata lain satu bulan satu prestasi. Makna prestasi pada saat itu masih berupa piala, gelar, juara, sertifikat dan hal-hal berbau gila hormat, gila pangkat, gila pengakuan. Mindset tersebut timbul karena keresahan saya yang selalu mengosongkan bagian prestasi dalam setiap mengisi formulir registrasi apapun. Selalu iri hati saya ketika melihat daftar panjang prestasi yang terdapat dalam formulir registasi yang diisi teman-teman sepermainan saya. Mulai dari SD, SMP, SMA, hingga awal kuliah teman-teman saya benar-benar dicurahkan untuk membuahkan prestasi segudang. Saya? Hanya mengandalkan juara II menggambar tingkat SD, not more nor less.

Kmfh Ugm

Kmfh Ugm

Alhasil, saya berusaha mengikuti jejak-jejak prestasi yang telah dicetak juara-juara kampus. Ditemukanlah dua organisasi luar biasa yang berisi orang-orang luar biasa. KMFH dan Komunitas Hukum Tata Negara (HTN). Dua organisasi yang telah menyetir isi dalam pikiran saya untuk ikut sekedar nimbrung, mendengarkan, menyimak, dan berharap agar terpercik ilmu dan segala pengetahuan untuk mengisi pundi-pundi prestasi saya yang kemarau sejak SD. Dari situlah dimulai perjalanan panjang kompetisi debat, menulis, dan keilmuan lainnya.

Awalnya KMFH yang menjadi bidikan pertama. Saya menemukan segudang senior-senior yang mendapat prestasi diberbagai bidang, baik menulis, debat, penelitian, peradilan semu, dan bidang-bidang keilmuan lain. Dari situ saya paham sebuah resep mujarab untuk menjerat orang-orang pragmatis semacam saya agar dapat tertarik pada kegiatan dakwah, jadikan lembaga dakwah tersebut berkilau! Penuh dengan kilau prestasi para aktivis dakwahnya. Hingga akhirnya terbangun mindset, “ingin berprestasi? Yuk berdakwah”. Apakah akhirnya saya merasa terjebak? Dengan tegas saya katakan YA! Terjebak dalam sebuah kebaikan yang pada akhirnya menjadikan diri saya (Insya Allah) baik.

Saudara-saudari yang membersamai perjalanan ini :))

Saudara-saudari yang membersamai perjalanan ini :)

Bayangkan, di KMFH saya perlahan secara alami memahami betapa bodohnya saya akan ilmu agama. Dalam pandangan saya dipenuhi dengan orang-orang yang berusaha menjadikan dirinya baik, belajar, belajar, terus belajar menjadikan dirinya pantas untuk masuk kedalam surgaNya dengan menjadi seorang manusia baik. Hal tersebut seperti sebuah uppercut yang telak mengenai rahang. What the hell did I do so far? Tidak paham konsep tauhid, shalat tidak disiplin, lemah membaca Alquran, tidak bersahabat dengan cerita nabi, hingga buta dalam berbagai fiqih. Sungguh luar biasa takdir Allah SWT yang menjadikan saya sebagai seorang pengurus harian yang otomatis menjadikan saya sebagai seorang public figure sehingga dibebani pemahaman masyarakat bahwa saya idealnya adalah tauladan.

facebook.com

facebook.com

Terus belajar, terus berusaha menjadi baik selama menjadi  pengurus harian sampai akhirnya saya jatuh cinta pada pesantren. Mata saya terbuka ketika membaca buku Negeri Lima Menara, yang bercerita tentang anak-anak yang bekerja keras belajar untuk meraih cita-citanya lewat pesantren. Runtuhlah konsepsi pesantren sebagai penjara alim dalam otak saya. Segera saya bergerak untuk mencari tahu berbagai macam pesantren di Yogyakarta, dan ternyata berserakan banyak. Berkali-kali gagal karena terlambat dalam tahap administrasi akhirnya Allah SWT menjatuhkan hati saya pada sebuah pesantren di bilangan Seturan. Islamic Centre Al-Muhtadin. Perjalanan panjang saya menggali ilmu agama akan dimulai dari sini, terima kasih yang sangat besar saya ucapkan kepada seluruh keluarga besar di KMFH.

indonetwork.co.id

indonetwork.co.id

Tapi tentu saja hal itu masih belum bisa mengisi titik-titik kosong pada kolom bagian prestasi dalam sebuah formulir pendaftaran manapun. Penelusuran saya saat itu yang bertanya-tanya pada senior-senior di KMFH mengenai resep untuk menjadi juara mengantarkan saya pada sebuah komunitas, yang memproduksi orang-orang luar biasa. Komunitas HTN. Saya bertemu dengan orang-orang yang berakal cerdas, berlogika tajam, bernalar cepat yang semua itu seperti mimpi jika saya membayangkan ingin menjadi seperti salah satu diantara mereka. Saya dikenalkan dengan debat, sebuah kompetisi yang jika tidak dipahami dengan baik maka akan menjerumuskan pengikutnya pada kesesatan berfikir dan bertindak.

seperti mimpi jika saya membayangkan ingin menjadi seperti salah satu diantara mereka

Berdebat melatih kita untuk menggali ilmu, membangun argumentasi, meluruskan alur berfikir, dan intinya adalah belajar. Kurang lebih kalimat tersebut adalah kata-kata dari sesepuh Komunitas HTN yang membekali kita dengan sebuah mindset berfikir sebelum terjun dalam kompetisi debat. Intinya belajar. Tingkat pemahaman saya yang pas-pasan pada saat itu memaksa saya hanya memahami itu sebagai sebuah kata mutiara belaka. Hanya terpatri diotak, belum terukir dihati. Masih terjebak dalam nafsu prestasi yang membara saya mengikuti proses panjang kompetisi debat. Walaupun sayang hukum aksi-reaksi kembali bicara, karena saya terlarut dalam kompetisi debat, saya kurang lebih menelantarkan amanah saya sebagai PH di KMFH. Sungguh saya minta maaf karena ternyata tidak mudah melaksanakan perkataan yang keluar dari mulut saya untuk tetap membersamai teman-teman seperjuangan KMFH selama aktif dalam kompetisi debat.

Padjadjaran Law Fair

Padjadjaran Law Fair

Dalam ingar-bingar kompetisi debat saya berusaha mengakselerasi kemampuan verbal saya yang buruk, mengasah logika saya agar dapar mengejar logika teman-teman satu tim, memacu nalar agar dapat sensitif terhadap permasalahan. Ditambah setumpuk bahan bacaan, berton-ton teori yang dikeluarkan senior dan dosen, komplikasi realita dan idealita menjadi makanan favorit selama berada dalam tim kompetisi debat. Hasilnya? Akhirnya hujan turun dalam paceklik prestasi, saya juara II Debat Hukum Nasional di Universitas Padjadjaran. Tentu itu setelah sebelumnya mengalami kegagalan pada lomba serupa di Universitas Indonesia. Pahit yang berujung manis. Senang hati saya pada saat itu, tapi ya hanya pada saat itu. Karena setelah itu saya merasa tidak terlalu banyak berperan positif dan memetik manfaat.

Sungguh benar bahwa cobaan sesungguhnya adalah setelah menjadi juara

Berbagai tindakan indisipliner dalam proses latihan, niat yang semata-mata hanya menargetkan pragmatisme juara, menjadikan gelar Juara II Lomba Debat hanya menjadi sekedar gelar. Sungguh benar bahwa cobaan sesungguhnya adalah setelah menjadi juara, kita diberikan beban dengan anggapan orang yang high estimate kepada para juara. Dicap sebagai orang pintar, orang dengan public speaking yang luar biasa, lugas, dan sebagainya. Keadaan itu terus berlangsung hingga saya terlibat dalam Lomba Debat Mahkamah Konstitusi Tingkat Nasional. Saat itu saya mengikuti lomba tersebut dengan setengah hati dan hanya didorong karena rasa hormat saya terhadap senior yang meminta langsung untuk ikut dan kebetulan tidak ada kegiatan KMFH yang melibatkan saya sebagai person in charge.

kampus.okezone.com

kampus.okezone.com

Memperbaiki kesalahan pada lomba sebelumnya saya berusaha keras untuk disipilin, walaupun masih seringkali kalah dengan rasa kantuk dan malas. Proses belajar tersebut akhirnya secara perlahan mengukir bekas dihati. Betapa ilmu menjadi sangat krusial perannya dan sangat penting untuk digali secara mendalam. Puncaknya ketika saya berada dalam babak final Lomba Debat Mahkamah Konstitusi yang mempertemukan UGM dan UNAND dengan memperdebatkan mosi hukuman mati untuk koruptor yang menjadi tanggung jawab saya untuk menggalinya. Berat! Setelah dipastikan masuk babak final, saya segera membalik ulang buku bacaan, mencatat ulang segala teori untuk menjatuhkan argumentasi lawan, terus berlangsung hingga pagi buta. Itu ikhtiar terakhir dan saya pasrah.

Tears by ~simplesighs

Tears by ~simplesighs

Saat perdebatan dimulai di Gedung Mahkamah Konsitusi terjadi peristiwa yang tidak saya sangka. Teman-teman saya yang perform saat itu begitu perkasa, gagah, teguh dengan argumentasi yang terstruktur, kokoh walaupun diterjang tsunami sanggahan lawan. Sontak mata saya merah, perih berair, hampir menangis. Saya bingung termenung. Air mata saya keluar bukan pada saat pengumuman juara diberitahukan Fessy Alwi, tapi saat teman-teman saya tampil perkasa pada saat debat. Lagi-lagi kepala saya seperti terkena uppercut yang telak meninju rahang. Takdir Allah SWT menjadikan saya jatuh cinta pada ilmu pada saat itu. Sungguh sebuah gelar juara dan tetek bengeknya itu semu, dibandingkan dengan berkahnya sebuah ilmu. Kata-kata perkasa yang keluar dari mulut tim perform benar-benar seperti kristalisasi ilmu yang saya perjuangkan semalaman suntuk. Terima kasih saya ucapkan sebesar-besarnya kepada Komunitas HTN yang menjatuhkan hati saya pada ilmu.

Air mata saya keluar bukan pada saat pengumuman juara diberitahukan Fessy Alwi, tapi saat teman-teman saya tampil perkasa pada saat debat.

Itulah gambaran keegoisan diri saya yang hanya memikirkan diri sendiri selama setahun lebih. Telah saya curahkan waktu selama satu tahun untuk mengisi kekosongan ilmu baik dalam konteks dunia dan akhirat. Dimulai dari pragmatisme berujung idealisme. Tidak habis apresiasi saya terhadap mereka yang sangat berperan besar dalam proses ini. Oleh karena itu sebagai bentuk rasa terima kasih saya, saya berencana untuk menghabiskan waktu saya di tahun 2012 untuk tetap belajar dan mencoba mengajar. Belajar dan mengajar. Ini adalah tanggung jawab saya yang dititipkan pemahaman, dititipkan ilmu, dititipkan kemampuan untuk menyebarkannya agar dapat menyadarkan orang-orang pragmatis lain agar jalannya dapat selaras dengan yang saya alami. Minimal. Manusia berencana, Allah SWT yang menentukan. Saya niatkan, ikhtiarkan, dan tawakal. Bismilllah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s