Korelasi Ahmad Fuadi dan Hesa Adrian

manajemenemosi.blogspot.com

manajemenemosi.blogspot.com

Enam februari 2012, masa liburan bagi sebagian besar mahasiswa Indonesia, termasuk kampus tempat saya belajar, UGM. Pada tanggal tersebut saya menamatkan sebuah buku yang dari awal penerbitannya ingin saya beli karena merupakan kelanjutan dari buku pertama yang sangat menginspirasi saya. Ranah 3 Warna, sebuah novel yang menceritakan hikayat seorang mahasiswa dan perjuangannya untuk menimba ilmu. Pada sekuel sebelumnya buku Negeri 5 Menara telah berhasil menyadarkan diri betapa saya seorang pemuda yang bodoh akan pemahaman agama sekaligus membuat iri dan malu ketika diperlihatkan sosok-sosok seperti Alif dkk. Mereka adalah sosok pecinta ilmu, pekerja keras, dan penyabar. Sungguh dua novel karangan Ahmad Fuadi tersebut sangat menginspirasi saya.

membuat iri dan malu ketika diperlihatkan sosok-sosok seperti Alif dkk

Alif yang menjadi tokoh utama pada dua series trilogi novel karangan Ahmad Fuadi (yang sekaligus adalah cerminan Alif) digambarkan sebagai seorang pengembara yang sangat haus akan ilmu. Rantau yang menjadi adat sukunya di Minang telah mengantarkannya pada sebuah Pondok Pesantren Gontor di Kulon Progo Jawa Timur. Jauh dari asalnya Sumatra Barat. Ia mendapatkan begitu banyak siraman rohani, ilmu, canda tawa, amarah, dan hal-hal berwarna-warni lainnya di pesantren tersebut. Begitu menyenangkan dan bermanfaat gambaran pesantren melalui penuturan Ahmad Fuadi di novelnya tersebut, hingga berhasil meruntuhkan statement urakan saya akan sebuah sekolah islam ataupun pondok pesantren.

antaranews.com

antaranews.com

Dulu saya berpikiran bahwa pesantren seperti sebuah penjara yang mengekung kebebasan para santrinya. Ketat, suram, tertutup, stagnan, bosan adalah kata-kata yang selalu melekat pada pikiran saya setiap mendengar kata pesantren. Ibarat dihujami bom nuklir, anggapan saya luluh lantah setelah saya menghatamkan Negeri 5 Menara. Tidak saya sangka akhirnya saya meniatkan diri untuk masuk pesantren di Yogyakarta tempat saya kuliah. Walaupun berkali-kali gagal lolos seleksi karena keterlambatan administrasi, akhirnya Pondok Pesantren Mahasiswa Islamic Centre Al-Muhtadin bersedia untuk menggembleng seorang anak ingusan dalam ilmu agama bernama Hesa Adrian Kaswanda. Dengan kata lain, novel Negeri 5 Menara telah sukses mengantar saya untuk masuk ke dunia pesantren demi belajar ilmu agama Islam.

Saat ini, saya baru saja rangkum membaca Ranah 3 Warna. Novel sambungan dari Negeri 5 Menara. Novel ini menceritakan Alif yang telah selesai belajar di Gontor atau yang biasa disebut dalam novel Pondok Madani, dan ingin meneruskan proses belajar di bangku kuliah. diceritakan perjuangan seorang santri yang baru mengenal kimia, matematika, fisika secara lebih dalam untuk lolos dari lubang Jarum ujian penyamarataan dan UMPTN. DYNAMITE! Akhirnya dengan inspirasi dari tim Denmark yang meledak-ledak ia pun mengikrarkan dirinya untuk meledakkan segala potensi dalam dirinya. Alhasil, ia berhasil masuk Jurusan Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran Bandung.

dysisphiel.multiply.com

dysisphiel.multiply.com

Dari hal tersebut, cerita sesungguhnya baru dimulai. Nilai dari kalimat man shabara zafira akan terukir apik dalam kisah juang, haru, dan ikhlas Alif selama berada di Bandung. Ia bekerja banting tulang untuk mendapatkan biaya hidup, masuk organisasi pers mahasiswa, bertemu Bang Togar, Raisa, Randai, hingga ke Kanada. Ada beberapa hal yang lagi-lagi saya temukan mirip dengan hikayat Alif dalam Ranah 3 Warna. Mungkin dalam latar belakang keluarga, saya beruntung hidup ditengah keluarga yang berkecukupan, berbeda dengan Alif yang harus menjadi pekerja rodi demi hidup, dan makan bubur dengan tuangan air putih agar kenyang tiap sarapan. Alhamdulillah saya bersyukur atas nikmat Allah. Tapi kehidupan kampus Alif sedikit banyak bersinggungan dengan kehidupan kampus saya.

photo.ghiboo.com

Ahmad Fuadi photo.ghiboo.com

Saya saat ini masih terhitung aktif sebagai editor dalam Badan Penerbitan Per Mahasiswa Balairung UGM. Sama halnya dengan Alif yang aktif sebagai anggota Pers Mahasiswa Kutub di UNPAD. Ketertarikan Alif akan menulis sama halnya dengan ketertarikan saya akan menulis. Mungkin kami berdua sama-sama mengamini bahwa kata adalah senjata, dan senjata itu sering kita gunakan dalam setiap elemen kehidupan kita, seringkali dalam bentuk tulisan. Sosok Bang Togar dalam novel Ranah 3 Warna juga saya temukan dalam kehidupan saya. Bang Togar yang keras, lugas, terkadang menyebalkan digambarkan sebagai seorang yang penuh dengan nilai kehidupan dan sangat jenius dalam penulisan. Itu adalah cakar yang disembunyikan dalam sikap-sikapnya. Tanpa menyebutkan nama, saya menemui sosok itu pada salah seorang senior saya. Saya belajar nilai-nilai kehidupan seperti cinta terhadap ilmu, kerja keras, telaten dan tentu saja ilmu menulis. Tentu saya bisa menghayati bagaimana luntang-lantung keadaan Alif yang rela dijadikan bola pingpong oleh Bang Togar karena saya pun kurang lebih merasakan kerasnya dunia menulis oleh orang yang “keras” namun penuh nilai.

Negeri 5 Menara telah berhasil mengirim saya ke Pondok Pesantren Islamic Centre, lalu apakah Ranah 3 Warna akan berhasil mengirim saya keluar negeri untuk belajar?

Eskalasi kehidupan Alif setelah itu terus menanjak naik. Hingga akhirnya ke Kanada. Ini yang belum saya cicipi. Dan saya penasaran, bahkan sangat penasaran apakah sejarah kembali berputar. Negeri 5 Menara telah berhasil mengirim saya ke Pondok Pesantren Islamic Centre, lalu apakah Ranah 3 Warna akan berhasil mengirim saya keluar negeri untuk belajar? Kembali belajar nilai-nilai kehidupan, memperluas wawasan, dan menambah kerabat selayaknya perantau. Sungguh saya sangat termotivasi dengan kalimat “Scholarship Hunter” pada artikel biodata Ahmad Fuadi, sebab saya belum pernah mencicipi rasa nikmat dari beasiswa. Tentu pertanyaannya juga berlanjut apakah saya akan bertemu dengan sosok Randai yang menjadi seteru abadi? Apakah saya akan bertemu sosok Raisa yang hidup dalam relung hati Alif? Banyak kemiripan antara fakta dan cita saya dengan cerita Alif membuat dada terus bergemuruh membayangkan masa depan, semoga ini baik. Wallahualam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s