Menyelami Intervensi Dunia Internasional Dalam Ekonomi Indonesia

The Economy by ~NimzZz

The Economy by ~NimzZz

Pada masa kolonial ketika Indonesia masih diduduki oleh Belanda, dunia ekonomi Indonesia berada dalam genggaman Vereniging Overseas Company (VOC). Mungkin lebih tepat disebut dijajah, karena saat itu benar-benar terjadi ketimpangan sosial dan ekonomi. Rakyat menjadi budak pekerja yang terus dipaksa bekerja rodi hingga seringkali tanpa diopeni gaji, hasilnya pun tidak kembali ke rakyat melainkan dijual secara besar-besaran di pasar Internasional. Peristiwa kelam penjajahan dunia ekonomi di Indonesia tersebut telah memasuki bentuk baru, neo. Tendensi dunia Internasional kembali menjadi momok yang mengerikan bagi rakyat Indonesia, bentuk-bentuk ketidakadilan nampak namun samar. Tidak lagi gamblang layaknya ketika masa VOC. Inilah neo-kolonialisme.

blog.djarumbeasiswaplus.org

blog.djarumbeasiswaplus.org

Ada dua poin penting yang akan coba dibahas dalam tulisan ini yakni mengenai modal asing dan utang luar negeri. Keduanya sangat erat kaitannya dengan intervensi asing dalam perekonomian Indonesia. Akan coba dikupas kulitnya, hingga kita dapat melihat apakah betul didalamnya terdapat racun yang mematikan bagi perekomonian Indonesia. Jangan-jangan kedua hal itu adalah bentuk neo-kolonialisme yang menjangkit Indonesia? Buku yang menjadi tuntunan utama dalam penulisan ini adalah Manifesto Ekonomi Kerakyatan yang ditulis oleh Revrisond Baswir, Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM. Beliau yang menggadang-gadangkan konsepsi ekonomi kerakyatan memiliki pandangan-pandangan terhadap eksistensi utang luar negeri dan modal asing.

yang tidak diinginkan sistem ekonomi kerakyatan adalah penempatan ekonomi Indonesia sebagai subordinasi dari ekonomi asing

Money by ~SipaPhoto

Money by ~SipaPhoto

            Ada satu hal yang perlu digaris bawahi dalam tulisan Revrisond Baswir, dikatakan bahwa sistem ekonomi kerakyatan adalah sistem ekonomi terbuka, tidak anti asing. Bahkan terang-terangan dikatakan bahwa kehadiran utang luar negeri dan modal asing bukan hal yang tabu. Namun ditegaskan sebelumnya bahwa yang tidak diinginkan sistem ekonomi kerakyatan adalah penempatan ekonomi Indonesia sebagai subordinasi dari ekonomi asing. Hal tersebut tidak lain karena keinginan besar sistem ekonomi kerakyatan yang bercita-cita menjadikan rakyat Indonesia sebagai tuan di negeri sendiri.

            Mari dikupas satu persatu, dimulai dari utang luar negeri. Persoalan klasik bangsa Indonesia. Dalam pembahasan utang luar negeri harus ditarik mundur dulu dilihat sejarahnya, saat para founding father ini mulai membangun Indonesia. Bagaimana saat itu utang luar negeri disambut oleh para pendiri bangsa? Bagaimana perkembangannya hingga tertimbun besar seperti saat ini? Dalam buku Manifesto Ekonomi Kerakyatan dijelaskan Moh. Hatta memiliki pandangan khusus terhadap kedudukan utang luar negeri.

Ketika berbicara mengenai sumber pembiayaan pembangunan sesuai dengan amanat pasal 33 UUD 1945, Bung Hatta secara jelas menempatkan modal nasional dalam urutan pertama, utang luar negeri pada urutan kedua, dan penanaman modal asing pada urutan ketiga (Hatta, 1970:83)

Ternyata sejak masa awal kemerdekaan utang luar negeri memiliki peran penting dalam proses pembangunan bangsa, terlebih kedudukannya berada diatas modal asing.

Money Rules the World by ~Alu87

Money Rules the World by ~Alu87

            Penempatan utang luar negeri diatas modal asing, menurut Revrisond adalah hal yang tidak sulit dipahami. Hal ini dilihat dari keterlibatan pihak asing dalam penyelenggaraan negara.

Secara teoritik lebih mudah mengendalikan kegiatan yang dibiayai oleh utang luar negeri yang pelaksanaannya dilakukan oleh bangsa Indonesia sendiri dibandingkan mengendalikan kehadiran modal dan tenaga kerja asing secara langsung.

Karena hal itulah utang luar negeri lebih disambut baik oleh para penyelenggara negara pada saat itu. Hal itu bisa dilihat dalam pemaparan Revrisond yang mengatakan bahwa perbincangan dalam tingkat wacana mengenai pentingnya utang luar negeri bagi peningkatan kesejahteraan rakyat telah terjadi pada bulan November 1945 (Wenstein, 1976:207). Peminjamannya pun akhirnya cukup besar, pada tahun 1949 tercatat Rp 3,8M, lalu Rp 3,8M, Rp 4,5M, Rp 5,3M, Rp 5,2M, Rp 5,2M, Rp 5,0M pada periode 1950-1955.

lebih mudah mengendalikan kegiatan yang dibiayai oleh utang luar negeri

Money destroys everything by ~Spougle

Money destroys everything by ~Spougle

            Dalam proses peminjaman tersebut dilakukan dengan sangat berhati-hati. Hal ini karena dalam setiap peminjaman utang dilandasi dengan pemahaman bahwa peminjaman utang luar negeri tidak sedangkal transaksi ekonomi biasa, namun terdapat unsur politik didalamnya. Maka terdapat syarat yang diajukan pemerintah Indonesia dalam setiap peminjaman yang dilakukan, sebagaimana yang dikutip Revrisond, yakni:

  1. negara pemberi pinjaman tidak boleh mencampuri urusan politik dalam negeri negara yang meminjam.
  2. suku bunga utang luar negeri tidak boleh lebih dari 3-3,5 persen setahun
  3. jangka waktu utang luar negeri harus cukup lama, untuk keperluan industri berkisar 10-20 tahun, sedangkan untuk pembangunan infrastruktur harus lebih dari itu (Hatta, 1967, Dalam Swasono dan Ridjal, 1992:201)
American Economy by ~wheelerphotography

American Economy by ~wheelerphotography

Begitu besarnya kepentingan politik dibalik utang luar negeri tersebut, ada peristiwa besar pada masa Soekarno yang berkonfrontasi dengan Amerika.

Menyusul keterlibatan Inggris dalam konfrontasi Indonesia dengan Malaysia pada tahun 1963, pemerintah Indonesia segera menanggapi hal itu dengan menasionalisasikan perusahaan-perusahaan Inggris yang beroperasi disini. Mengetahui hal itu, Pemerintah AS tidak mau tinggal diam. Setelah beberapa waktu sebelumnya mencoba menekan Indonesia untuk mengaitkan pencairan pinjamannya dengan pelaksanaan program stabilisasi Dana Moneter Internasional (IMF), AS kemudian mengaitkan pencairan  pinjaman selanjutnya dengan tuntutan untuk mengakhiri konfrontasi dengan Malaysia.

mobavatar.com

mobavatar.com

Campur tangan AS tersebut, ditengah-tengah maraknya demonstrasi menentang pelaksanaan program stabilitasi IMF ditanah air, segera ditanggapi Bung Karno dengan mengecam utang luar negeri dan menentang AS secara terbuka. Ungkapan “go to hell with your aid” yang sangat terkenal itu adalah bagian dari ungkapan kemarahan Bung Karno terhadap pemerintah AS.

Selain kasus “go to hell with your aid” tersebut, masih banyak contoh-contoh yang disebutkan Revrisond dalam bukunya yang secara terang memperlihatkan betapa intervensi akan ada dan besar pengaruhnya dalam tiap utang luar negeri.

segera ditanggapi Bung Karno dengan mengecam utang luar negeri dan menentang AS secara terbuka. Ungkapan “go to hell with your aid” yang sangat terkenal itu adalah bagian dari ungkapan kemarahan Bung Karno terhadap pemerintah AS.

            Dengan menggunakan intervensi-intervensi yang berujung tombak utang luar negeri, dunia internasional berhasil membuka pintu masuk bagi modal asing di Indonesia. Hal yang selama ini ditakutkan ternyata menjadi kenyataan. Dalam penjabaran di buku Manifesto Ekonomi Kerakyatan dibahas kedatangan tekanan yang bertubi-tubi dari AS, hingga Indonesia mengalami krisis ekonomi-politik pada tahun 1960. Puncaknya adalah penyerahan kekuasan oleh Soekarno kepada Soeharto pada tahun 1966. Menjadi persoalan kemudian ketika tepat sebelum penyerahan kekuasaan, Soekarno dipaksa untuk menandatangani empat undang-undang:

    1. UU No. 7 Tahun 1966 tentang penyelesaian masalah utang piutang antara pemerintah Indonesia dan pemerintah Belanda.
    2. UU No. 8 Tahun 1966 tentang pendaftaran Indonesia sebagai anggota Asian Development Bank (ADB)
    3. UU No. 9 Tahun 1966 tentang pendaftaran kembali Indonesia sebagai anggota IMF dan Bank Dunia

UU No. 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing

Alhasil, dalam orde baru pimpinan Soeharto utang luar negeri dan modal asing menjadi senjata dalam pembangunan besar-besaran di Indonesia. Itulah titik balik yang akhirnya menjadikan Indonesia sebagai sarang utang luar negeri dan modal asing.

Economy Class by ~esthetic-of-sight

Economy Class by ~esthetic-of-sight

            Saat ini dunia ekonomi Indonesia benar-benar telah disetir oleh intervensi dunia internasional. Ada sebuah istilah yang menarik dalam hal intervensi dunia internasional, yakni paket program penyesuaian struktural yang mana didalamnya terdapat empat agenda utama:

  1. kebijakan anggaran ketat
  2. penghapusan subsidi
  3. liberalisasi sektor keuangan dan perdagangan
  4. privatisasi BUMN

Sadarkah bahwa keempat hal tersebut saat ini sedang menjalar ke sendi-sendi perekonomian Indonesia? Entah pestisida macam apa yang tepat untuk membasmi hama-hama yang menggerogoti perekonomian Indonesia. Layaknya judul artikel ini, kali ini saya cukup menyelami dulu. Cukup meraba-raba dimana permasalahannya. Tanpa kehilangan rasa optimis bahwa trah ekonomi Indonesia yang sebesar-besar untuk kemakmuran rakyatnya akan terselenggara. Mungkin akan dibahas dan dicari jawaban dari tiap sektor permasalahan kompleks ekonomi Indonesia, di artikel lain. PERCAYA!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s