Berdamai Dengan Masa Lalu

nengflora.blogspot.com

nengflora.blogspot.com

barbiedini.blogspot.com

barbiedini.blogspot.com

hayatisweet.blogspot.com

hayatisweet.blogspot.com

Ketiga novel diatas adalah novel karangan Tere Liye. Novel-novel yang telah khatam saya baca saat saya haus dengan hiburan, penat dengan segala masalah, dan lari dari tanggung jawab. Muak. Namun sungguh luar biasa indah kehendak Allah telah mengajarkan saya untuk belajar berdamai dengan keadaan, hingga yang sangat buruk sekalipun, melalui ketiga novel tersebut. Cara yang menyenangkan untuk menenangkan.

Sunset Bersama Rosie saya baca saat berseteru dengan sahabat – sahabat yang disebabkan banyaknya bongkahan masalah yang dipendam sendiri, lalu terpaksa ke Jakarta karena mengetahui berbagai kabar tidak baik. Takut mati kebosanan di perjalanan 10 jam Yogyakarta-Jakarta, saya pinjam novel Sunset Bersama Rosie tersebut dari seorang teman asrama. Halaman demi halaman dibaca, dilamat, dipahami, hingga saya belajar sebuah pelajaran kehidupan. Berdamai dengan masa lalu, bukan melupakan.

“…Mereka harus tahu indahnya proses berdamai dengan masa lalu. Memaafkan siapapun yang pernah menyakiti kita. Memahami indahnya menerima, memaafkan, tapi tidak melupakan…”

Tegar-Sunset Bersama Rosie (Tere Liye)

Kalimat sederhana tersebut sangat apik dijelaskan dalam kisah perjalanan Tegar, Rosie, dan empat anak perempuan Rosie (Anggrek, Sakura, Jasmine, dan Lili). Proses panjang dalam usaha untuk berdamai tersebut digariskan oleh Tere Liye sebagai sebuah usaha yang berat, panjang, dan sangat melelahkan. Tapi sungguh manis pada ujungnya.

Sama halnya dengan dua novel lainnya, Ayahku (Bukan) Pembohong, dan Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin. Keduanya menegaskan bahwa melupakan  bukanlah jawaban untuk menyelesaikan masalah, menyerahkan semua masalah pada waktu agar lupa bukan sebuah perbuatan bijak, menghajar diri dengan kesibukan beban rutinitas untuk lari dari masalah benar-benar tidak tepat.

Saya yang sempat menjadi pelari ulung dalam menghadapi masalah, menjadi pemimpi tulen yang menggantungkan segalanya pada keajaiban, menjadi pemalas yang melepas semuanya pada takdir dan nasib, berusaha untuk menanamkan pelajaran hidup yang sederhana ini. Pekerjan yang memang berat, seringkali melelahkan, bahkan kadang memalukan. Namun inilah ikhtiar dari seorang hamba kepada Tuhannya. Agar dapat berdamai dengan masa lalu.

Bismillahirrahmanirrahim.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s