2012; Menelasar Nalar, Memperjuangkan Perasaan

Gila ya? Saya yang tidak dapat menyelesaikan masalah adalah masalah bagi orang lain.

 Have you ever had the feeling,by *Illzie

Have you ever had the feeling,by *Illzie

Tahun baru 2013 adalah perayaan tahun baru ketiga bagi saya selama tinggal di Yogyakarta.  Terhitung sepi jika dibandingkan dengan dua tahun sebelumnya yang dihabiskan di Bukit Bintang dan Tugu Yogyakarta. Namun tidak dengan fluktuatif perasaan yang begitu ramai naik-turun, ke kanan-ke kiri, kesana-kemari selama tahun 2012. Memang benar jika sedari pertengahan tahun saya berfikir bahwa tahun 2012 adalah waktunya belajar memahami perasaan. Baik perasaan orang lain, maupun perasaan sendiri.

Perasaan menjadi hal yang sangat penting nan membingungkan karena kita sebagai manusia adalah makhluk sosial. Saling berinteraksi, melalui indera terhubung, mengkomunikasikan isi hati dan fikiran. Perasaan. Entah saling acuh ataupun saling jaga, perasaan menjadi esensial dalam setiap hubungan antar manusia. Bagi saya, yang pada akhirnya harus banyak berinteraksi dengan banyaknya perasaan manusia, menjadi pelajaran penting untuk mengetahui bagaimana caranya menjaga perasaan.

Sebagai catatan, selama tahun 2012 saya diberikan amanah untuk menjadi Koordinator Majelis Syuro Keluarga Muslim Fakultas Hukum (MS KMFH), Ketua Kolektif Kolegial Komunitas Hukum Tata Negara (Ketua KomHTN), Editor Badan Penerbitan Pers Mahasiswa Balairung ( Editor Bal), Staff Editor Jurnal Mimbar Hukum (Editor JMH), serta Pemandu Asistensi Agama Islam (AAI). Sangat banyak, bahkan dikatakan gila oleh ibu saya sendiri yang tidak habis fikir melihat anaknya keranjingan beraktifitas. Tidak berlebihan memang reaksi ibu saya, karena dari situlah saya akhirnya paham bahwa manajemen waktu itu dimulai sejak memilih untuk  berkomitmen beraktivitas di suatu tempat.

Dari semua amanah tersebut, mungkin hanya kegiatan AAI yang minim fluktuasi perasaan. Sisanya? syahdan, begitu banyak konflik perasaan. Mungkin saya harus benar-benar meminta maaf atas segala hal yang saya lakukan jika dirasakan salah dan tidak pantas. Maaf.

twitter.com

twitter.com

Mulai dari Editor Bal.  Saya diberikan empat reporter yang tulisannya siap untuk saya edit. Beserta satu rekan editor. Hal ini menjadi berat karena tanpa direncanakan dan tanpa disadari Balairung telah menjadi prioritas kesekian dari amanah-amanah lainnya, karena saya fikir saya punya rekan, reporter akan jauh lebih aktif dibandingkan editor, dan saya beritikad hanya akan sangat jeli pada logika berfikir saat editing lainnya menjadi fokus nomor sekian. Ternyata tidak seringan itu, saya masih harus tetap mengumpulkan mereka semuanya untuk manajemen isu, editing tidak akan layak jika hanya fokus pada logika berfikir, plus harus menulis artikel majalah Balairung.

Ya Allah, betapa dzalimnya saya ketika gagal menjaga perasaan para awak Balairung yang senantiasa menggantikan kosongnya peran saya dalam setiap kegiatan yang seharusnya saya lakukan. Anehnya, mereka tetap memberikan saya amanah suatu tugas pun ketika saya telah gagal melaksanakan setiap tugas yang diberikan seluruhnya. Bahkan hingga akhir tahun ini pasca pergantian kepengurusan, saya diberikan amanah baru sebagai Redaktur Pelaksana. Entah bagaimana percakapan batin para awak Balairung yang tabah menerima kemalasan dan kekhilafan saya, dan tetap percaya untuk kembali memberikan amanah. Apapun, mereka sungguh merupakan pribadi yang senantiasa berhusnudzon.

twitter.com

twitter.com

Selanjutnya, MS KMFH. Disini saya bersama empat orang rekan lainnya, semacam menjadi pengawas atas jalannya kepengurusan KMFH yang digerakkan Pengurus Harian. Memperhatikan, memberikan saran, melakukan mediasi adalah sebagian hal yang menjadi tugas MS KMFH. Dalam amanah kali ini yang sering kali saya lakukan adalah memberikan saran dan melakukan mediasi. Terutama melakukan mediasi, itu semua merupakan kegiatan langka bagi saya pada saat itu. Saya belajar memperhatikan, belajar mendengarkan, belajar memahami apa yang ingin disampaikan perasaan dalam setiap isi hati orang. Belajar bagaimana menegosiasikan urusan perasaan, bagi yang dipersalahkan dan menyalahkan. Belajar bagaimana mendengarkan komentar pedas, saran tegas, hingga kritik lugas. Alhamdulillah, jika mendengarkan cerita mereka itu bisa menenangkan mereka, saya senang menjadi pendengar yang baik.

bahwa masih banyak orang yang rela memikirkan saya, padahal saya sedang tidak memikirkan mereka.

social-studies17.blogspot.com

social-studies17.blogspot.com

Selebihnya, Komunitas HTN dan JMH benar-benar menjadi tempat mengadu nasib, mengaduk hati, menggodok akal. Di Komunitas HTN, terutama pada fase awal, saya tidak henti-hentinya berusaha untuk menjaga perasaan dua pihak. Seolah-olah tidak pernah ada pilihan alternatif ketiga, saya ditekan untuk memilih diantara dua pilihan. Saya atau dia, kami atau mereka, cara saya atau cara kamu. Tidak lebih. Berat. Terlebih jika ketika saya memilih menjaga perasaan pihak yang pada akhirnya justru tetap merasa disakiti, tidak diakomodir, diacuhkan. Di Komunitas ini pula saya merasakan rasanya jatuh dari lagit. Jatuh berdentum, menggaung keras karena kalah di kandang sendiri. Harapan-harapan yang dibebankan di pundak saya sirna. Walaupun memang hasil bukanlah indikator tunggal, namun tetap menyebalkan melihat kekalahan yang dikarenakan sikap culas (mungkin).

Mungkin masa kepemimpinan saya di K0munitas tersebut adalah masa-masa kelam bagi kelompok studi keilmuan tersebut. Bukan karena kekalahan yang menyebalkan yang menjadikan segala kegiatan mandek, sungguh, itu semua karena saya masih belum cukup bisa bersikap dewasa untuk memisahkan mana yang urusan pribadi dan mana yang urusan publik. Rasa depresi dalam urusan pribadi secara tak sengaja berpengaruh dalam urusan publik, itu. Mohon maaf jika kedzaliman saya terhadap Komunitas ini begitu besar. Mohon maaf jika saya baru sadar setelah diceritakan bahwa masih banyak orang yang rela memikirkan saya, padahal saya sedang tidak memikirkan mereka. Ada yang mengatakan bahwa bagi seorang laki-laki saya terlalu membawa perasaan, maaf, memang seperti itu adanya.

Ibarat kuda pacu yang tali pelananya dipegang oleh puluhan orang, yang ada hanya leher yang kehabisan nafas karena tercekik konflik kepentingan semua pihak.

 Everyday Shopping Scene?by `Exillior

Everyday Shopping Scene?by `Exillior

Tak jauh berbeda dengan Komunitas, kinerja saya di JMH tidak lebih baik. Alasannya? Sama. Karena urusan pribadi yang tidak tuntas. Beda subjek dan objek memang, tapi yang ini benar-benar karena sikap buruk saya. Benar. Sikap malas, sungkan, gengsi benar-benar merusak niat baik. Kombinasi sikap yang sangat buruk hingga merusak segala rencana. Entah bagaimana mengubahnya, hingga beranjak pada tahun 2013 ini, saya masih terlilit oleh sikap jelek ini. Masalahnya pun hingga kini belum selesai. Hanya dibiarkan membusuk hingga baunya tercium banyak orang, sama sekali tidak solutif. Untuk kesekian kalinya saya mohon maaf, jika terlalu banyak orang yang direpotkan karena sikap buruk saya. Mohon maaf.

Kesimpulannya? Masalah perasaan ini memang sulit. Mungkin inilah akibatnya jika laki-laki terlalu berperasaan. Tapi disatu sisi saya tetap bersyukur. Karena saya sering mendapati orang-orang yang mengesampingkan perasaan, hanya mengandalkan rasio, juga tidak dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Menganggap skenario yang dirancang nalar akal dapat berjalan mulus, lupa bahwa manusia bukanlah malaikat yang selalu taat pada perintah. Namun disatu sisi memperhitungkan perasaan manusia juga tidak absolut benar. Mengikuti apa yang diinginkan perasaan tidak akan ada habisnya, menjadi lembek karena harus berkompromi pada pertimbangan orang lain. Ibarat kuda pacu yang tali pelananya dipegang oleh puluhan orang, yang ada hanya leher yang kehabisan nafas karena tercekik konflik kepentingan semua pihak. Alhasil, kudanya tidak akan pernah sampai ke garis finish.

Ibu saya bilang, biar saja, bilang saja ini adalah hal maksimal yang saya bisa lakukan. Ditengah banyaknya amanah, banyaknya masalah, banyaknya tuntutan ini yang paling maksimal. Memang tidak optimal, ya sudah. Begitu.

 quietude. .'by ~godo-in-the-wall

quietude. .’by ~godo-in-the-wall

Tapi saya bergumam, bagaimanapun saya tetap berbuat dzalim pada banyak orang tahun ini. Segala kelalaian saya dan kekhilafan saya dalam menyelesaikan masalah telah menjadi masalah bagi orang lain. Gila ya? Saya yang tidak dapat menyelesaikan masalah adalah masalah bagi orang lain. Entahlah, apa ini ujian atau azab. Tetapi harus diambil hikmahnya, harus tetap diambil pelajarannya. Tulisan ini pun adalah ikhtiar bagi saya untuk merekam kembali kedzaliman saya, guna menjadi pelajaran bagi diri sendiri dan orang lain.

Jadi ingat ya? Selesaikan juga urusan pribadimu itu. Itu saja. Jangan jumawa memikirkan yang jauh melangit. Bukan berarti menjadi anti sosial, individualis, dan introvert. Bukan. Jadilah pibadi proporsional. Tetaplah berpegang pada janji Allah bahwa barangsiapa yang menolong urusan saudaranya, niscaya Allah akan mudahkan urusannya. Saya tetap beriman pada janji tersebut. Tapi proporsional-lah, jangan sampai urusan pribadi luput diselesaikan. Karena itulah saya baru paham arti penting sepuluh muwasafat tarbiyah. Itulah sepuluh hal yang harus tuntas diselesaikan dalam urusan pribadi. Yakinlah, ketika kita tidak tuntas dengan masalah pribadi, maka diri kita adalah masalah bagi orang lain. Termasuk tuntas dalam manajemen perasaan.

Allah berfirman, setiap dari kalian adalah pemimpin yang akan dimintakan pertanggungjawabannya. Entahlah. Yang paling saya takutkan adalah ketika saya tidak dapat mempertanggungjawabkan semuanya karena terlalu banyak berbuat semaunya. Saya mohon maaf kepadaMu Ya Rabb karena gagal melaksanakan amanah-amanah yang telah Kau berikan.

yang paling dekat dengan kita ialah MATI. Sebab itu janji Allah bahawa setiap yang bernyawa pasti akan mati

yang paling jauh adalah masa lalu. Karena, dengan mengendarai kendaraan jenis apapun, tak akan pernah ada yang mampu mencapainya!

yang paling besar adalah hawa nafsu. Sangat banyak manusia masuk neraka karena memperturutkan hawa nafsunya yang sangat besar

yang paling ringan adalah meninggalkan shalat. KArena pekerjaan kita
atau urusan dunia, kita tinggalkan solat

yang paling berat adalah memegang amanah. Manusia dengan sombongnya
berebut-rebut menyanggupi permintaan Allah SWT sehingga banyak manusia
masuk ke neraka kerana gagal memegang amanah

yang paling tajam sekali didunia ini adalah LIDAH MANUSIA. Karena melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri

(Imam Ghazali)

 

Akhir kata.

saya mohon maaf. (lagi).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s