Kisah Ayah, Anak, dan Keledainya

Pagi tadi (5/1) di PMIC, Ust. Muhammad Abdulloh Sholihun bercerita tentang kisah Ayah, Anak, dan Keledainya. Cerita inspiratif nan makjleb yang cukup membuat santri-santrinya terbahak-bahak (sebenarnya saya yang paling besar tertawanya, hhahahaha). Saat itu sedang dibahas mengenai dibutuhkannya keselarasan perkembangan tarbawi dan da’awi. Kolerasinya dengan cerita ini, mungkin beliau ingin menegaskan bahwa kunci penting agar tetap terjaga keseimbangan antara tarbawi dan da’awi, yang harus dijunjung adalah Allah SWT, bukan manusia. Berikut ceritanya disadur dari internet, dan diberi tambahan versi Ust Sholihun

kisahkisah.com

kisahkisah.com

Suatu hari, tatkala seorang ayah dan anaknya sedang mengadakan perjalanan dengan seekor keledainya, sang anak naik di atas keledai dan ayahnya menuntun keledai tersebut. Ketika orang-orang melihat kejadian itu, mereka pun berkomentar.

“Lihatlah, betapa tidak berbaktinya anak itu. Ia enak naik di atas keledai, sementara ayahnya harus menuntun keledainya,”

Mendengar hal itu, ayah dan anak itupun bertukar posisi. Kini ayahnya lah yang naik keledai dan anaknya berganti menuntun keledainya. Melihat hal itu, orang-orang pun berkomentar.

“Lihatlah orangtua itu. Betapa teganya ia membiarkan anaknya menuntun keledai, sementara ia enak duduk mengendarainya. apa dia tidak kasihan pada anaknya yang kelelahan?”

Kembali mendengar komentar orang-orang itu, sang ayah dan anaknya mengambil inisiatif untuk menaiki keledainya bersama-sama. Jadilah ayah dan anak itu kini berada di atas keledainya. Melihat hal itu, orang-orangpun kembali berkomentar.

“Lihatlah, betapa teganya ayah dan anak itu, keledai sekecil itu mereka tunggangi berdua. Apa mereka tidak merasa kasihan dengan keledai yang ditungganginya?”

Jengkel dengan komentar orang-orang, maka ayah dan anak itupun turun dari keladai, dan membiarkan keledai itu menganggur. Melihat hal itu, orang-orang pun tak hentinya bekomentar lagi.

“Lihatlah, betapa bodohnya mereka. Mereka punya keledai untuk dikendarai, malah mereka biarkan keledainya menganggur tidak dinaiki,”

Semakin kesal dengan komentar orang-orang, maka ayah dan anak itu menggendong keledai tersebut sembari terus berjalan. Melihat hal itu, orang-orang akhirnya berkomentar.

“Dasar, orang gila,”

 

http://aufanury.wordpress.com/2011/11/22/antara-ayah-anak-dan-seekor-keledai/

3 responses to “Kisah Ayah, Anak, dan Keledainya

  1. begitulah, masing-masing orang cara berfikir (imajinasi) berbeda-beda dalam menilai kelakuan orang lain (lupa kok gak menilai dirinya sendiri. “apa dirinya sudah baik kelakuannya” ?)

    • Iya mas, jangan buruk rupa cermin dibelah, hhehehe
      Intinya cerita diatas, gak akan ada habisnya kalo mencari penilaian manusia, cukup penilaian Allah aja, hehehhe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s