Revitalisasi Pemuda Pembelajar sebagai Fondasi Bangsa

 ingin pintarby ~kaibaQ

ingin pintarby ~kaibaQ

Sebagai sebuah negara yang berkembang dan memiliki potensi untuk menjadi negara maju, Indonesia membutuhkan sebuah motor penggerak yang akan menjadi mesin untuk menjalani proses menuju cita-cita bangsa. Sebagaimana yang telah digariskan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, itulah cita-cita bangsa, bentuk riil dari sebuah negara maju versi Indonesia.[1] Lalu bagaimana cara menemukan motor penggerak yang tepat untuk mencapai cita-cita bangsa tersebut? Sampai saat ini saya yakin, kunci untuk mencapai hal tersebut dimulai dari unsur pendidikan, dan pendidikan tidak akan lepas dari unsur pemuda. Termasuk mahasiswa.

Indonesia yang saat ini terancam terperangkap dalam sebuah jebakan global,

 Trappedby *japarks55

Trappedby *japarks55

harus kembali menjadi bangsa yang mandiri terlepas dari penjara ilusi bantuan luar negeri. Heinrich Von Pierer seorang pemimpin perusahaan multinasional Siemens dahulu mengatakan bahwa angin persaingan bebas telah berkembang menjadi angin ribut dan badai yang sesungguhnya masih ada di depan kita. Hal itu semakin jelas terlihat jika melihat pemaparan Hans Peter Martin dan Harald Schumann dalam buku Jebakan Global, Globalisasi: Serangan Terhadap Demokrasi dan Kesejahteraan, yakni:[2]

Neo globalisme akan membuat orang berpikir bahwa semua itu merupakan suatu hasil yang wajar dari kemauan ilmiah dan teknologi yang tak dapat ditawar-tawar lagi. Namun ini adalah omong kosong belaka; ia secara sadar dikendalikan oleh suatu kebijakan/politik yang tak mengenal kompromi.

Indonesia yang terjerumus dalam jurang perangkap global sejak orde baru, harus kembali melakukan gebrakan cerdas yang sifatnya bottom-up, guna mereduksi sedikit demi sedikit ketergantungan internasional dan kembali menjadi bangsa mandiri. Hal tersebut membutuhkan peran pemuda sebagai sumber daya manusia yang memiliki kredibilitas memimpin bangsa ini menuju cita-citanya yang saat ini terlihat utopis.

Tahun 1928 ditengah krisis identitas bangsa Indonesia, para pemuda berhasil menggagas sebuah simbol pemersatu bangsa yang berbentuk sumpah pemuda. Keith Foulcher seorang peneliti sastra Indonesia selama lebih dari 30 tahun, menggambarkan sumpah pemuda sebagai salah satu simbol nasional penting dalam konteks memahami Indonesia, lebih lanjut ia menjelaskan bahwa:[3]

Berulang-ulang, susunan “satu bangsa, satu tanah air, satu bahasa” digambarkan sebagai “janji suci” yang diucapkan oleh delegasi-delegasi di depan kongres 1928. Ini adalah sumpah para pemuda untuk tetap bersatu yang diteruskan turun temurun ke seluruh generasi pemuda Indonesia.

 Sumpah Pemudaby ~AYIB

Sumpah Pemudaby ~AYIB

Mulai dari politik bahasa hingga egoisme kedaerahan dapat sedikit demi sedikit diredam demi membangun persatuan bangsa. Bayangkan, ini jauh sebelum Indonesia merdeka! Oleh karena itulah Indonesia merupakan satu dari sedikit negara yang nilai-nilai kebangsaannya telah tercipta sebelum negaranya terbentuk. Yang lebih membanggakan, hal itu dilakukan oleh para pemudanya.

Gambaran tersebut memperlihatkan bagaimana pemuda-pemuda telah mengambil peran vital sebagai titik balik lahirnya sebuah bangsa. Dalam konteks kekinian, pemuda-pemuda bangsa Indonesia akan tercermin dari mereka yang berusia muda yang memiliki heterogenitas yang sangat tinggi. Mampukah para pemuda saat ini mengulangi kesuksesan generasi muda Indonesia pada zaman dulu?

Mulai dari politik bahasa hingga egoisme kedaerahan dapat sedikit demi sedikit diredam demi membangun persatuan bangsa. Bayangkan, ini jauh sebelum Indonesia merdeka!

Seperti yang telah disinggung diawal, Indonesia yang sudah terlanjur terperangkap, harus melakukan sebuah aksi riil guna menggeliat lepas dari cengkeraman para pemangku kepentingan. Pemuda yang saat ini menjadi harapan bangsa harus dapat membuktikan bahwa Indonesia bisa lepas dari perangkap tersebut, bisa kembali menjadi bangsa mandiri, sesuai dengan yang dicita-citakan. Mahasiswa yang paling bisa menggambarkan sosok pemuda, harus menyadari tugas yang tersemat dalam dirinya.

 Indonesianby ~diekave

Indonesianby ~diekave

Apabila seorang mahasiswa telah sadar bahwa terdapat amanah besar yang ada di pundaknya, untuk menginisiasi gebrakan cerdas bagi bangsanya, maka ia harus menjadi pembelajar yang baik, agar kelak dapat menjadi pemimpin yang berkompeten. Seringkali luput dari seorang mahasiswa guna menjadi pembelajar yang baik adalah belajar untuk mengisi hati. Bukan hanya mengisi otak. Jangan tanya, ada berapa orang pintar yang dimiliki negara ini. Sungguh banyak. Tapi tanyakanlah ada berapa orang pintar yang dimiliki negara ini dan ingin membangun negaranya. Sungguh sedikit.

Ambil contoh juara-juara debat hukum tingkat universitas. Apabila mereka tidak paham esensi dari kompetisi debat hukum, maka yang terasah hanyalah otak mereka, hingga lupa mengkayakan hati, alhasil menjadi pribadi yang hatinya mudah dibeli. Mudah sekali kelak bagi mereka untuk memanipulasi pasal-pasal dalam sebuah peraturan perundang-undangan untuk menguntungkan siapa saja yang dapat membeli hatinya. Ingat, menjadi pemuda pembelajar tidak hanya sibuk mengisi fikirannya, namun juga sibuk membersihkan hatinya.

Apakah universitas telah melaksanakan fungsi mereka untuk mendidik para mahasiswanya dalam hal fikiran dan hatinya? Jika tidak, maka universitas itu telah mati.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana cara untuk membuat tatanan pemuda pembelajar yang terisi fikiran dan hatinya? Tentu yang menjadi sasaran pertama adalah institusi pendidikan. Bagi mahasiswa, sebuah universitas yang selayaknya menjadi kawah candradimuka bagi mereka, apakah telah menjalankan fungsinya dengan baik? Apakah universitas telah melaksanakan fungsi mereka untuk mendidik para mahasiswanya dalam hal fikiran dan hatinya? Jika tidak, maka universitas itu telah mati. Selayaknya manusia yang dikatakan mati, apabila tidak dapat melaksanakan fungsinya untuk bekerja, bernafas, dan sebagainya. Mati.

Dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, telah dijelaskan apa yang dimaksud dengan pendidikan, yakni:[4]

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

Lihat? Tidak hanya kecerdasan, tidak hanya keterampilan. Namun juga kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, akhlak mulia. Itulah tugas institusi pendidikan yang seharusnya. Berat? Memang. Tugas mulia nan berat ini telah menjadi tugas institusi pendidikan dengan segala elemen di dalamnya termasuk para dosen sebagai pendidik. Apabila selama ini yang menjadi fokus para pendidik adalah kecerdasan dan keterampilan, jangan kaget apabila peserta didik yang mereka hasilkan mafia intelektual. Penjahat yang menggunakan daya intelektualitasnya.

 kaos males kuliahby ~sou-tang

kaos males kuliahby ~sou-tang

Dibutuhkan sebuah itikad baik dari para pihak-pihak elite pendidikan yang berkuasa, untuk mentransformasi pendidikan sebagaimana apa yang telah “diniatkan” dalam definisi yuridisnya. Ubah sistemnya yang diskriminasi bagi orang berpenghasilan rendah. Reformasi proses penerimaan mahasiswanya, terbuka, egaliter, untuk semua universitas, fakultas, jurusan, maupun prodi. Perbaiki alur penerimaan dosen yang benar-benar paham apa itu mendidik. IPK 4 dan  TOEFL 550 tidak menjamin seseorang bisa mendidik, karena banyak terdapat nilai-nilai yang tidak tercermin dari dua indikator tersebut. Hilangkan praktik-praktik culas dan birocracy complex dalam universitas.

Begitu banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh para pemangku kebijakan dalam sebuah institusi pendidikan. Sehingga pendidikan kembali hidup. Institusi pendidikan kembali menjalankan fungsinya, tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan pasar akan tenaga kerja, namun juga memenuhi kebutuhan bangsa akan pemuda yang siap berkarya.

Itikad baik tentu juga harus dimiliki mahasiswanya. Sebagaimana yang diharapkan, inisiasi harus dimulai dari para pemudanya. Mereka harus paham apa yang mereka cari dalam sebuah proses pembelajaran. Apabila sebuah institusi pendidikan telah gagal menghadirkannya, maka carilah! Cukup menjadi mental pengemis yang minta disuapi. Saat ini sangat banyak kelompok-kelompok belajar yang menjalar di sela-sela perkuliahan. Mereka menghadirkan proses pembelajaran yang tidak hanya berisi nilai-nilai kecerdasan, namun juga nilai-nilai kemanusiaan.

 Diskusi Satu Meja...by ~randygorenggambar

Diskusi Satu Meja…by ~randygorenggambar

Ambil contoh Komunitas Hukum Tata Negara di Fakultas Hukum UGM. Berawal dari hobi bercengkerama mengenai isu-isu nasional seputar kenegaraan, komunitas ini berhasil menelurkan proses pembelajaran yang tidak hanya sarat ilmu tapi juga nilai-nilai yang menjadi cita-cita bangsa sebagaimana dalam Pembukaan UUD 1945. Ketika ruang kelas gagal menghadirkan idealisme seorang negarawan, komunitas belajar ini dapat menyuguhkan nilai-nilai yang harus dimiliki para calon penyelenggara negara.

Itu adalah satu dari sekian banyak komunitas belajar yang marak di universitas. Sifatnya bottom-up. Pengakuan pun muncul ketika berbagai prestasi berhasil direngkuh bukan dengan maksud gila hormat, tapi karena gila belajar. Semoga mahasiswa-mahasiswa yang dihasilkan pun dapat istiqomah, sebagaimana adanya mereka ketika berada dalam proses belajar tersebut.

 Patung Pemuda Membangunby ~saradisini

Patung Pemuda Membangunby ~saradisini

Apabila pemuda pembelajar dapat terbentuk ketika mereka berproses selama menjadi mahasiswa. Pembelajar yang terisi fikiran dan hatinya, yakinlah, cita-cita bangsa tidak lagi menjadi hal yang utopis. Mereka akan paham bahwa proses pembelajaran adalah lifetime learning. Merekalah yang akan menjadi pemimpin-pemimpin yang akan menjadi nahkoda bagi kapal besar yang bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia, untuk lepas dari ombak jebakan global, untuk memaksimalkan segala potensi kemampuannya, untuk menjadi negara yang berdaya.


[1]     Lebih lanjut lihat Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.

[2]     Hans Peter Martin dan Harald Schumann, 2004, Jebakan Global, Globalisasi: Serangan Terhadap Demokrasi dan Kesejahteraan, Hasta Mitra-Institute For Global Justice, Jakarta, hlm. 19.

[3]     Keith Foulcher, 2008, Sumpah Pemuda, Makna & Proses Penciptaan Simbol Kebangsaan Indonesia, Komunitas Bambu, Jakarta, hlm. 2.

[4] Lihat Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s