Komitmen dan Tanggung Jawab

 punchby ~yondus

punchby ~yondus

Malam lalu saya makan malam dengan seorang senior kampus. Daripada senior, saya lebih nyaman menyebutnya Uni atau Mbak. Senyaman dia memanggil saya bocah, dek, ataupun echa. Kami makan santapan wajib khas Balikpapan, seafood. Di Restoran Kepiting Dandito yang mahsyur karena kelezatannya, makan malam kami tidak hanya sekedar proses mengenyangkan perut, tapi juga mengeyangkan hati. Banyak pembicaraan. Sebelumnya kami juga makan malam di Melawai, mencicipi dua Pisang Gapit dimana yang pertama basi karena asal pilih tempat dan yang kedua lumayan enak karena telah selektif. Di pinggir pantai Melawai yang syahdu karena temaram nyala kapal ferry, juga banyak hal yang dibicarakan, namun saya ingin mengulas pembicaraan di Kepiting Dandito, karena lebih keras uppercut-nya ke diri saya.

privetoegang.wordpress.com

privetoegang.wordpress.com

Dari pembicaraan minyak bintang khas suku dayak yang konon katanya dapat membuat manusia tidak bisa mati, entah kenapa pembicaraannya berlanjut mengenai komitmen dan tanggung jawab. Mungkin inilah yang sering disebut random talk. Mbak saya ini menceritakan getirnya pengalaman satu tahun menganggur saat lulus SMA. Bagi dia rasanya sangat berat, karena sebelumnya dengan menterengnya juara olimpiade kimia, predikat nilai kimia tertinggi se-jakarta, hingga berbagai tawaran beasiswa ia merasa sangat diatas angin. Merasa aman dan nyaman. Sebelum akhirnya, jatuh karena tidak ada satupun perguruan tinggi yang akhirnya diambil karena berbagai pertentangan, kondisi, dan masalah. Alhasil, tanpa kuliah ia menganggur. Bukan karena tidak mampu, tapi karena ketidakmauan orang-orang disekitarnya. Praktis, dari hal tersebut, ia belajar makna komitmen dan tanggung jawab. Ia berkomitmen pada diri bahwa tahun depan harus masuk universitas, dan bertanggung jawab atas komitmen tersebut dengan kembali belajar. Hasilnya? Berhasil.

“mungkin itu ya, yang dimaksud dengan dewasa, bisa tanggung jawab, iya, tahu apa yang harus dilakukan,”

Saya seperti melihat cermin diri saya sendiri. Namun cermin anonim. Berbeda dengan saya yang sangat payah dalam hal komitmen dan tanggung jawab. Sederhana sebenarnya. Membuat komitmen lalu bertanggung jawab atas komitmen tersebut. Saya sering telah sampai pada sebuah komitmen, namun sering tidak dapat bertanggung jawab atas komitmen tersebut. Mbak saya bilang “mungkin itu ya, yang dimaksud dengan dewasa, bisa tanggung jawab, iya, tahu apa yang harus dilakukan,”. Okay, saya sering berada pada titik belum menunjukkan kedewasaan. Sulit untuk bisa bertanggung jawab atas segala yang saya pegang sebagai sebuah komitmen. Mbak saya juga bilang “mba biasa buat target-target, dan semua target-target itu harus selesai, terus berusaha walaupun sering kerasa berat, jangan menyerah sama keadaan,”. Okay, saya masih sering berada pada titik minim usaha dan pasrah. Sulit sekali untuk mengisi bahan bakar semangat pada diri sendiri demi terus bergerak raga dan pikiran untuk mencapai sebuah target.

Melihat keadaan mbak saya yang sudah cukup mapan, karena saat ini sedang bekerja di sebuah bank terkemuka di Indonesia. Saya hanya dapat bergumam dalam hati, “jika saya tidak mengubah sikap, saya tidak akan bisa seperti dia atau melebihi dia,”. Benar memang kata kakak saya yang lain, hidup adalah pilihan yang diperjuangkan. “Kalo tanggung jawab sama diri sendiri aja belum bisa, gimana mau tanggung jawab sama orang lain?” tandas mbak. Ayolah, sa, mulai berjuang.

Pisang Gapit

Pisang Gapit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s