Tiga Moda, Dua Hari, Satu Tujuan

Percayalah. Bagi mahasiswa yang akan berangkat KKN dan memang meniatkan diri untuk benar-benar KKN, perjalanan dari Bulaksumur ke masing-masing lokasi penempatan akan selalu mendebarkan. Memaksa jantung berdetak lebih cepat, membuat gelagat lebih gelisah, memutar otak lebih cepat. Dalam kasus saya, karena terlalu deg-deg’an, terlalu gelisah, kepala berputar terlalu cepat, alhasil tidak bisa tidur semalam sebelum tanggal pemberangkatan dan mengalami flu berkepanjangan selama perjalanan. Suara bersin dan hidung tersumbat adalah original sound track perjalanan ke Papua kali ini.

Segala aksi reaksi dalam tubuh itu memang manusiawi jika perjalanan yang ditempuh sungguh jauh. Yogyakarta hingga Papua. Kendaraan darat, laut, udara dijajal semua. Diawali dari menumpang motor milik teman asrama, dilanjutkan mengangkasa di pesawat melewati Makasar hingga Sorong, lalu berjejalan dengan para porter dan penumpang di kapal ferry. Hectic!

Perjalanan penuh sambung menyambung moda transportasi membuat kita melihat gradasi kualitas alat transportasi dan sarana prasarana yang menyertainya. Saya yakin semua orang yang pertama kali pergi ke Sorong dan transit melalui Bandara Sultan Hasanudin di Makasar akan terkesiap kaget melihat keadaan Bandara Dominique Edward Osok di Sorong. Jawdropping condition.

Selama mengudara terlihat juga kualitas dan kuantitas pembangunan di setiap kota yang dilalui. Melihat Yogyakarta yang mulai penuh sesak, melihat Makasar yang masih diselingi banyak hutan, hingga melihat Papua yang ada hanya hutan.

Well, semoga rencana kami untuk pergi ke daerah Papua yang gradasi keadaannya sangat kontras dibandingkan daerah lainnya di Indonesia, merupakan sebuah pilihan yang tepat. Sebab di daerah yang sudah jauh berkembang, dilihat dari kualitas sumber daya manusia, mereka bisa untuk terus tumbuh, hanya saja banyak yang tidak mau memulai untuk melakukan sesuatu. Be able to grow but unwilling to do so. Lain dengan Papua yang sumber daya manusianya membutuhkan trigger untuk memulai titik pertumbuhannya lebih jauh, dengan harapan adanya percepatan pertumbuhan agar dapat sejajar dengan daerah lainnya. Akan sulit untuk megharapkan percepatan tanpa bantuan dan bimbingan sebagai trigger mechanism. Unable and unwilling to grow.

Let’s grow together Papua.

One response to “Tiga Moda, Dua Hari, Satu Tujuan

  1. Pingback: Never Ending Story, Saonek Island | Hesadrian·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s