First Blood

_Blood__by_Zoeim

_Blood__by_Zoeim

Hari pertama kami bermukim di Sub Unit Bonkawir, kami sudah dihadapkan pada masalah klasik. Sampah. Setiap orang akan selalu menghasilkan sampah, 28 orang akan menghasilkan banyak sampah, rentang 2 bulan sangat cukup untuk merusak alam apabila persoalan sampah ini disepelekan.

Segera kami mendiskusikan cara pengelolaan sampah ini. Dibakar? Diolah ulang? Akhirnya kami memilih menguburnya. Terutama sampah organik sisa makanan. Anjing-anjing di Bonkawir cukup banyak untuk memporak porandakan tempat sampah di Masjid. Terlebih yang menyerbu adalah anjing dan yang diserbu adalah masjid. “Kain-kain yang menutupi batas suci masjid ini agar anjing tidak ada yang masuk masjid”, ungkap salah satu warga mengeluhkan masalah banyaknya anjing di Bonkawir. Untung tidak ada babi, seperti yang saya lihat di Sorong. Jika ada, habislah sudah masjid ini.

Alat-alat berat disiapkan. Pacul-pacul kami paksa bekerja lebih keras karena liatnya tanah. Saya yang terbiasa menggenggam joystick, terpaksa memegang pacul. Awalnya kikuk. Semakin lama terbiasa dan saya terlampau semangat. Tanpa henti tanah terus digali karena produksi sampah dipastikan akan sangat banyak. Gali, gali, dan gali.

Saat kegiatan menguras keringat itu selesai saya baru sadar, ada empat lokasi di telapak tangan yang melepuh. Semuanya simetris, dua sudah pecah. “First blood,” gumam saya dalam hati. Awalnya saya kira tak seberapa mengganggu, saat saya mengolesi tangan saya dengan facial foam untuk membersihkan wajah, amboi! Seperti luka-luka yang diberi perasan jeruk nipis. Perih.

Hingga malam hari saya berfikir, selama KKN ini pasti akan terus bertambah luka yang terbuka, serta darah yang mengucur. Wajar rasanya jika melihat mayoritas mahasiswa di UGM jarang bersentuhan dengan kerja kasar dan alam liar. Tak perlu menunggu lama, ternyata dugaan saya benar. Tak hanya luka atau sedikit darah. Tapi korban jiwa.

Teman saya dikabarkan melalui sms, bahwa ada seorang Mahasiswa Peternakan meninggal dunia karena tenggelam di kolam saat berenang. Diduga mengalami kram, dan tidak ada yang sadar. Tragis. Tak ada yang bisa saya lakukan selain berdoa semoga amalan ibadahnya diterima dan niat baiknya mengabdi diganjar setimpal. That’s first blood.

Kematian itu dekat. Semoga kami menjadi insan yang berfikir dan dapat mengambil hikmah pelajaran. Bismillah.

One response to “First Blood

  1. Pingback: Never Ending Story, Saonek Island | Hesadrian·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s