Home Sick

Hari pertama, semuanya berjalan menyenangkan. Memancing sangat mengesankan walau pulang dengan tangan hampa, memasak sangat seru walau rasa makanannya membuat lidah kelu, bermain bersama anak-anak sangat membahagiakan walau lelah. Semuanya benar-benar menyenangkan. Hari kedua, hanya bermain bersama anak-anak yang masih terasa menyenangkan. Hari ketiga, tiba-tiba semuanya membosankan.

Kampung Saonek

Kampung Saonek

Makanan semuanya membosankan. Berbicara dengan siapapun menjemukan. Bermain dengan anak manapun menyebalkan. Semuanya negatif. Sungguh memuakkan hidup dalam perspektif negatif ini. Rasanya yang ingin dilakukan hanya tidur agar semuanya segera selesai, segera usai.

Mungkin ini karena culture shock, dimana sebelumnya saya dimanjakan berbagai fasilitas hidup di Yogyakarta, hingga menceburkan diri di tanah Papua yang tidak selengkap Yogyakarta. Tidak ada camilan dingin menyejukan saat buka puasa, lenyap kios-kios yang menjajakan santapan lezat pemenuh syahwat, tanpa tausyiah menyentuh kalbu tiap pagi dan malam hari, nihil keran yang siap mengucurkan air kapanpun dibutuhkan. Semuanya cukup untuk menjadikan yang positif menjadi negatif.

Hingga selepas shalat tarawih, saya ingat, belum mengabarkan ibu tentang keadaan saya terakhir di Pulau Saonek. Hei, saat menelepon ternyata semuanya tercurahkan. Dalam percakapan tiga puluh menit semuanya kembali menjadi baik. Cukup dengan kalimat-kalimat sederhana. Kalimat yang sebenarnya biasa saya berikan kepada orang lain yang mengalami keadaan seperti saya saat ini.

“Iya, keadaan kamu sekarang mirip keadaan mama waktu di Singaparna. Bahkan mama lebih parah karena harus disana sampai tujuh bulan,” ibu saya menimpali dalam telepon. Beliau menambahkan dengan nada menyemangati “itu semua patokan cha. Kalau keadaan serba susah kayak gitu bisa dilewatin, getir di kota mah enggak ada apa-apanya,”. Kalimat-kalimat itu cukup  membentuk kesimpulan bahwa saya adalah anak manja.

Omong kosong ingin naik haji lewat jalur darat dan laut jika sudah jemu dengan jarak Yogyakarta-Papua. Omong kosong ingin membangun keluarga dari titik nol jika sulit mendapat makanan saja sudah mau mati rasanya. Omong kosong ingin membangun rumah ilmu bagi anak tidak mampu jika mengurus 30 anak papua saja sudah gerah. Omong kosong mimpimu itu sa!

Agaknya kalimat di banner iklan rokok daerah Seturan ada benarnya. Berhenti mengukur masalah, saatnya membangun langkah. Percakapan dengan ibu cukup melecut. Camkan saja dalam hati bahwa masalah itu mendewasakan. Mimpi-mimpi itu dibangun dari langkah-langkah kecil. Termasuk dari langkah lunglai di masa KKN ini, hingga menjadi langkah gagah tegap berani di masa depan.

DSC01390

Allah memiliki cara yang baik untuk mendewasakan hambanya. Bulat keputusan saya untuk menjadi KKN ini menjadi ladang berlatih mendewasakan diri. Saat saya sedang merenungkan hal ini, di depan desir lembut laut Saonek malam hari, saat gesekan pasir dan ombak kecil memanjakan telinga, bernaung di bawah ribuan kilau gugusan bintang langit Papua. Tiba-tiba “WAAAAAAAA!” teriakan keras segerombol anak-anak Papua dari belakang mengagetkan saya. “Om Esa kenapa sendirian ne? Kenapa kah? Lagi menelepon kah? Hati-hati nanti dimakan buaya laut!” Sahut-menyahut anak-anak Papua bertanya-tanya lalu diakhiri dengan tawa lebar bersama-sama. Aah, saya kira adegan seperti ini hanya ada di film romansa layar lebar. Manis.

One response to “Home Sick

  1. Pingback: Never Ending Story, Saonek Island | Hesadrian·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s