Ilmu Hitam Rakyat Mutiara Hitam

Sudah dua hari panas matahari terik menusuk kulit. Kontras dengan dua hari sebelumnya ketika badai tak berhenti menerjang hingga dinding rumah kami disusupi air. Bocor. Cuaca di Raja Ampat memang ekstrim. Sebentar terik, sebentar gemerintik. Bagai sihir, dalam sekejab semuanya selang-seling saling berganti.

Tak hanya cuacanya, kehidupan masyarakatnya pun penuh nuansa sihir. Kali ini stigma eksternal terhadap Papua tidak meleset. Rakyat Papua masih kental dengan hal-hal berbau sihir. Mistis.

Magic by Cruenta

Magic by Cruenta

Di SMPN 1 Raja Ampat, saya memiliki seorang murid laki-laki. Ia memiliki seorang adik yang wajahnya tidak mirip dengan anggota keluarga lainnya. Suatu hari saya berbicara dengan si adik tersebut. Penuh nada bercanda saya tanyakan, kenapa si adik wajahnya berbeda sendiri. “Panjang ceritanya kaka,” jawabnya singkat. Hening sejenak, lalu ia menceritakan sejarahnya. “Kakek saya tidak senang dengan bapak saya. Karena tidak senang, kakek saya memberikan minuman buatan dukun kepada ibu saya yang sedang mengandung saya. Agar saya gugur,” tanpa tersenyum sedikitpun ia melontarkan kalimat-kalimat yang sama sekali tidak terduga.

“Minuman dari dukun itu tidak berhasil menggugurkan saya, tapi saya jadi berbeda sendiri,” ia terus melanjutkan ceritanya itu sembari menunjukkan rambutnya yang keriting dan kulit wajahnya yang hitam. Ciri fisiknya itu memang berbeda dengan kakaknya yang berambut lurus dan berkulit lebih putih. Siapa yang sangka, mantra dukun punya peran di sejarah hidup sebuah keluarga Raja Ampat.

Belum lagi kisah heroik para pejuang lomba 17 Agustus. Konon katanya 17 Agustus bagi lima kampung di Distrik Waigeo Selatan tidak hanya sekedar kompetisi untuk memeriahkan kemerdekaan. Tapi menjadi ajang unjuk gigi jagoan masing-masing kampung. Hazby menjadi saksi mata betapa kerasnya pertandingan antar kampung tersebut. Anak yang baru menjejak kelas satu SMP itu mengenalkan para jagoan-jagoan kampung Saonek. “Kami akan mengeluarkan jagoan-jagoan Saonek, kalau kampung lain mengeluarkan duluan,” jelasnya dengan heboh.

Hazby terus melanjutkan ceritanya seraya memperagakan seadanya. “Kalau di pertandingan sepak bola, seperti di Waisai kemarin, bola itu sering sekali ditendang terbang tinggi sekali. Sering pecah juga bolanya,”. Saya pun hanya termenung membayangkan bola yang pecah karena disikat habis para pemainnya. Entah mantra-mantra apa yang dipakai para pemuda itu.

Terakhir Hazby menegaskan kepada kami untuk berhati-hati. “Kalau ada orang yang tidak disukai disini, kalau tidak sakit ya bisa mati nanti,” ujarnya sembari tersenyum tanpa dosa. Saya juga tersenyum, tapi kecut.

5 responses to “Ilmu Hitam Rakyat Mutiara Hitam

  1. Pingback: Never Ending Story, Saonek Island | Hesadrian·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s