Saonek di Kala Senja

Senja Saonek

Senja Saonek

Selepas shalat dzuhur, matahari lembut bersinar menemani angin yang menghembus pelan. Semua terasa lambat. Nelayan masih belum usai melaut. Anak sekolah masih terlelap lelah pasca pulang sekolah. Ibu rumah tangga tenggelam dalam kesibukan dapur. Sepi. Hanya kami enam laki-laki bujang yang berjalan bersama jamaah shalat dzuhur lainnya bergegas. Hari ini adalah peringatan 40 hari kematian Ketua RT 02 Kampung Saonek.

“Saya tidak mau, Saonek setelah tidak lagi menjadi ibu kota Kabupaten malah menjadi kota mati,” celetuk Bapak Hanafi Umpaim. Beliau adala Ketua RT 03 sekaligus anggota Dewan dari DPRD Papua Barat. Ketua RT 02 yang kami do’akan dan Ketua RT 03 itu adalah dua dari sedikit warga sepuh yang kukuh tinggal di Saonek. Mohon maaf, Saonek saat ini memang lebih cocok menjadi tempat peristirahan para orang tua. Itu semua pasca dipindahkannya status Ibu Kota Kabupaten Raja Ampat ke Kota Waisai. Mayoritas warga Saonek bedol desa.

Masalah bedol desa ke Waisai ini pelik. Menambah beban masalah yang mendera Kampung Saonek. Perlu diketahui, mayoritas jenis mata pencaharian warga di Kampung Saonek adalah nelayan dan PNS. Saat Saonek menjadi pusat pemerintahan kabupaten, penyelenggaraan urusan kabupaten terpusat di Saonek. Pasca status ibukota dipindah ke Waisai, pun pusat pemerintahan kabupaten dipindah, begitu juga para PNS yang bekerja dipindah. Memilih efisiensi dalam kehidupan sehari-hari, para PNS yang pindah lantas membawa sanak keluarganya ke Waisai.

Anak-Anak Saonek

Anak-Anak Saonek

Problematika bedol desa para PNS ini diperparah dengan masalah ketiadaan SMA di Saonek. Saat menjadi ibukota, Saonek memiliki SMA yang digabung menjadi satu dengan SMP. Satu gedung dua institusi. SMP pagi, SMA siang. Saat status ibu kota tiada, SMA di Saonek pun setali tiga uang. Imbasnya, generasi muda di Saonek harus pergi meninggalkan pulau jika ingin melanjutkan pendidikan hingga kuliah. Generasi muda yang tersisa hanyalah murid SD, SMP, dan yang putus sekolah.

Banyak yang hijrah, banyak yang ikut pindah, banyak yang berubah. Saat ini Saonek hanya didiami oleh para orang tua yang api semangatnya sudah redup, nelayan yang menghabiskan 2/3 hidupnya mengail ikan di laut, ibu-ibu rumah tangga yang sibuk dengan urusan dapur, dan anak-anak yang masih belum tuntas mengelap ingusnya sendiri. Hanya segelintir generasi usia produktif yang masih ada di Saonek. Dokter suster puskesmas, guru SD-SMP, serta PNS yang ditugaskan di Saonek.

Sulit rasanya menggerakan roda kehidupan di Saonek. Mengembangkan pulau menjadi semacam sentral suatu produk unggulan atau sekedar membuat kelompok unit usaha rumah tangga. Tidak ada iron stock. Minim pemuda. Butuh dinamo yang masih bersih dari karat usia dan kuat bertenaga untuk menggerakkan roda kehidupan.

One response to “Saonek di Kala Senja

  1. Pingback: Never Ending Story, Saonek Island | Hesadrian·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s